DO’A

Orang Yang Dikabulkan Do’anya

Banyak orang yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan untuk berdoa, padahal boleh jadi seseorang itu tergolong yang mustajab doanya tetapi kesempatan baik itu banyak disia-siakan. Maka seharusnya setiap muslim memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdoa sebanyak mungkin baik memohon sesuatu yang berhubungan dengan dunia atau akhirat.

Di antara orang-orang yang doanya mustajab.

[1]. Doa Seorang Muslim Terhadap Saudaranya Dari Tempat Yang Jauh

Dari Abu Darda’ bahwa dia berkata bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tidaklah seorang muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak di hadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata : “Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan”. [Shahih Muslim, kitab Doa wa Dzikir bab Fadli Doa fi Dahril Ghalib].

Imam An-Nawawi berkata bahwa hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan seorang muslim mendoakan saudaranya dari tempat yang jauh, jika seandainya dia mendoakan sejumlah atau sekelompok umat Islam, maka tetap mendapatkan keutamaan tersebut. Oleh sebab itu sebagian ulama salaf tatkala berdoa untuk diri sendiri dia menyertakan saudaranya dalam doa tersebut, karena disamping terkabul dia akan mendapatkan sesuatu semisalnya. [Syarh Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi 17/49]

Dari Shafwan bin Abdullah bahwa dia berkata : Saya tiba di negeri Syam lalu saya menemui Abu Darda’ di rumahnya, tetapi saya hanya bertemu dengan Ummu Darda’ dan dia berkata : Apakah kamu ingin menunaikan haji tahun ini ? Saya menjawab : Ya. Dia berkata : Doakanlah kebaikan untuk kami karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

“Artinya : Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya terkabulkan dan disaksikan oleh malaikat yang ditugaskan kepadanya, tatkala dia berdoa untuk saudaranya, maka malaikat yang di tugaskan kepadanya mengucapkan : Amiin da bagimu seperti yang kau doakan”. Shafwan berkata : “Lalu saya keluar menuju pasar dan bertemu dengan Abu Darda’, beliau juga mengutarakan seperti itu dan dia meriwayatkannya dari Nabi. [Shahih Muslim, kitab Dzikir wa Doa bab Fadlud Doa Lil Muslimin fi Dahril Ghaib 8/86-87]

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa jika seorang muslim mendoakan saudaranya kebaikan dari tempat yang jauh dan tanpa diketahui oleh saudara tersebut, maka doa tersebut akan dikabulkan, sebab doa seperti itu lebih berbobot dan ikhlas karena jauh dari riya dan sum’ah serta berharap imbalan sehingga lebih diterima oleh Allah. [Mir'atul Mafatih 7/349-350]

Catatan.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa Imam Karmani menukil dari Al-Qafary bahwa ucapan doa seorang : “Ya Allah ampunilah dosa semua kaum muslimin” adalah doa terhadap sesuatu yang mustahil sebab pelaku dosa besar mungkin masuk Neraka dan masuk Neraka bertolak belakang dengan permohonan pengampunan, bisa saja pelaku dosa besar di doakan, sebab yang mustahil adalah mendoakan pelaku dosa besar yang kekal di Neraka, selagi masih bisa keluar karena syafaat atau dimaafkan, maka itu termasuk pengampunan secara keseluruhan.

Ucapan orang di atas bertentangan dengan doa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Ya Rabb! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang-orang mukmin yang masuk ke rumahku dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan”. [Nuh : 28].

Dan juga bertentangan dengan doa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Ya Rabbi, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab”. [Ibrahim : 41]

Serta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diperintahkan seperti itu yang
terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan”. [Muhammad : 19]

Yang jelas permohonan dengan lafazh umum tidak mengharuskan permohonan untuk setiap orang secara kolektif. Mungkin yang dimaksud oleh Al-Qafary bahwa mendoakan kaum muslimin secara kolektif dilarang bila seorang yang berdoa menginginkan keseluruhan tanpa pengecualian dan bukan pelarangan terhadap syariat doanya. [Fathul Bari 11/202]

[2]. Orang yang Memperbanyak Berdoa Pada Saat Lapang Dan Bahagia

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya :Barangsiapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang”. [Sunan At-Tirmidzi, kitab Da'awaat bab Da'watil Muslim Mustajabah 12/274. Hakim dalam Mustadrak. Dishahihkan oleh Imam Dzahabi 1/544. Dan di hasankan oleh Al-Albani No. 2693].

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa makna hadits di atas adalah hendaknya seseorang memperbanyak doa pada saat sehat, kecukupan dan selamat dari cobaan, sebab ciri seorang mukmin adalah selalu dalam keadaan siaga sebelum membidikkan panah. Maka sangat baik jika seorang mukmin selalu berdoa kepada Allah sebelum datang bencana berbeda dengan orang kafir dan zhalim sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya ; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu”. [Az-Zumar : 8].

Dan firman Allah.

“Artinya : Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya”. [Yunus : 12. Mir'atul Mafatih 7/360]

Wahai orang yang ingin dikabulkan doanya, perbanyaklah berdoa pada waktu lapang agar doa Anda dikabulkan pada saat lapang dan sempit.

3]. Orang Yang Teraniaya

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”. [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38]

Dari Abu Hurairah bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda.

“Artinya : Doanya orang yang teraniaya terkabulkan, apabila dia seorang durhaka, maka kedurhakaannya akan kembali kepada diri sendiri”. [Musnad Ahmad 2/367. Dihasankan sanadnya oleh Mundziri dalam Targhib 3/87 dan Haitsami dalam Majma' Zawaid 10/151, dan Imam 'Ajluni No. 1302]

[4] & [5]. Doa Orang Tua Terhadap Anaknya Dan Doa Seorang Musafir.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

“Artinya : Tiga orang yang doanya pasti terkabulkan ; doa orang yang teraniyaya;doa seorang musafir dan doa orang tua terhadap anaknya”. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Do'a bi Dhahril Ghaib 2/89. Sunan At-Tirmidzi, kitab Al-Bir bab Doaul Walidain 8/98-99. Sunan Ibnu Majah, kitab Doa 2/348 No. 3908. Musnad Ahmad 2/478. Dihasankan Al-Albani dalam Silsilah Shahihah No. 596]

[6]. Doa Orang Yang Sedang Puasa

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tiga doa yang tidak ditolak ; doa orang tua terhadap anaknya ; doa orang yang sedang berpuasa dan doa seorang musafir”. [Sunan Baihaqi, kitab Shalat Istisqa bab Istihbab Siyam Lil Istisqa' 3/345. Dishahihkan oelh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah No. 1797].

[7]. Doa Orang Dalam Keadaan Terpaksa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu menginga(Nya)”. [An-Naml : 62]

Imam As-Syaukani berkata bahwa ayat diatas menjelaskan betapa manusia sangat membutuhkan Allah dalam segala hal terlebih orang yang dalam keadaan terpaksa yang tidak mempunyai daya dan upaya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan orang terpaksa adalah orang-orang yang berdosa dan sebagian yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud terpaksa adalah orang-orang yang hidup dalam kekurangan, kesempitan atau sakit, sehingga harus mengadu kepada Allah. Dan huruf lam dalam kalimat Al-Mudhthar untuk menjelaskan jenis bukan istighraq (keseluruhan). Maka boleh jadi ada sebagian orang yang berdoa dalam keadaan terpaksa tidak dikabulkan dikarenakan adanya penghalang yang menghalangi terkabulnya doa tersebut. Jika tidak ada penghalang, maka Allah telah menjamin bahwa doa orang dalam keadaan terpaksa pasti dikabulkan. Yang menjadi alasan doa tersebut dikabulkan karena kondisi terpaksa bisa mendorong seseorang untuk ikhlas berdoa dan tidak meminta kepada selain-Nya. Allah telah mengabulkan doa orang-orang yang ikhlas berdoa meskipun dari orang kafir, sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Sehingga tatkala kamu di dalam bahtera, dan meluncurkan bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya semata-mata’. (Mereka berkata) : ‘Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”. [Yunus : 22]

Dan Allah berfirman dalam ayat lain

“Artinya : Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Alla)”. [Al-Ankabut : 65].

Dari ayat di atas Allah mengabulkan doa mereka, padahal Allah tahu bahwa mereka pasti akan kembali kepada kesyirikan. [Fathul Qadir 4/146-147]

Imam Ibnu Katsir berkata bahwa Imam Hafizh Ibnu ‘Asakir mengisahkan seorang yang bernama Abu Bakar Muhammad bin Daud Ad-Dainuri yang terkenal dengan kezuhudannya. Orang tersebut berkata : “Saya menyewakan kuda tunggangan dari Damaskus ke negeri Zabidany, pada satu ketika ada seorang menyewa kuda saya dan meminta untuk melewati jalan yang tidak pernah saya kenal sebelumnya”, Dia berkata : “Ambillah jalan ini karena lebih dekat”. Saya bertanya : “Bolehkah saya memilih jalan ini”, Dia berkata : “Bahkan jalan ini lebih dekat”. Akhirnya kami berdua menempuh jalan itu sehingga kami sampai pada suatu tempat yang angker dan jurangnya yang sangat curam yang di dalamnya terdapat banyak mayat. Orang tersebut berkata : “Peganglah kepala kudamu, saya akan turun”. Setelah dia turun dan menyingsingkan baju lalu menghunuskan golok bermaksud ingin membunuh saya, lalu saya melarikan diri darinya, akan tetapi dia mampu mengejarku. Saya katakan kepadanya : “Ambillah kudaku dan semua yang ada padanya”. Dia berkata : “Kuda itu sudah milikku, tetapi aku ingin membunuhmu”. Saya mencoba menasehati agar dia takut kepada Allah dan siksaan-Nya tetapi ternyata dia seorang yang tidak mudah menerima nasehat, akhirnya saya menyerahkan diri kepadanya.

Saya berkata kepadanya : “Apakah anda mengizinkan saya untuk shalat?” Dia berkata : “Cepat shalatlah!” Lalu saya beranjak untuk shalat akan tetapi badan saya gemetar sehingga saya tidak mampu membaca ayat Al-Qur’an sedikitpun dan hanya berdiri kebingungan. Dia berkata : “cepat selesaikan shalatmu!”, maka setelah itu seakan-akan Allah membukakan mulut saya dengan suatu ayat yang berbunyi.

“Artinya : Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya, dan yang menghilangkan kesusahan”. [An-Naml : 62]

Tidak terduga muncul dari mulut bukit seorang satria datang ke arah kami dengan menggemgam tombak di tangannya, lalu melempar tombak tersebut ke arah orang tadi dan tombak pun mengenai jantungnya lalu seketika itu orang tersebut langsung mati terkapar. Setelah itu, maka saya memegang erat-erat satria tersebut dan saya bertanya : “Demi Allah siapakah engkau sebenarnya?” Dia mejawab : “Saya adalah utusan Dzat Yang Maha Mengabulkan permohonan orang-orang yang dalam keadaan terpaksa tatkala dia berdoa dan menghilangkan segala malapetaka”. Kemudian saya mengambil kuda dan semua harta lalu pulang dalam keadaan selamat. [Tafsir Ibnu Katsir 3/370-371]

kisah

KISAH ANAK TERANIAYA

Sejak masuk di bangku SMA,wisnu selalu merasa gelisah.dia selalu dijahili oleh teman-teman di kelasnya.akupun merasa kasihan kepada wisnu.tapi terkadang aku juga sering merasa jengkel kepadanya.sisky yang juga temanku satu kelas sering sekali menjahili wisnu apabila wisnu berbuat kesalahan.tapi mereka juga sering bercanda bersama.

“wisnu!! Aku minta minum kamu donk!”,sisky meminta minuman milik wisnu.”tapi jangan dihabiskan, ya!”,jawab wisnu. “aku juga ya!”pinta andy.”kamu itu minta terus, kapan bias beli sendiri”,kata wisnu.mendengar ucapan wisnu tadi, andy marah.dirinya merasa dihina oleh wisnu.”kamu menghina aku ya!kamu piker aku enggak bias membeli minuman sendiri!”,sentak andy kepada wisnu.pada waktu itu aku hanya bias tertawa kecil.wisnu terlihat sangat ketakutan.itulah yang sering dilakukan sisky dan andy.mereka selalu meminta apa yang dimiliki oleh wisnu.jika tidak diberi,jika tidak diberi,mereka selalu menjahili wisnu.kebiasaan tersebut mereka lakukan setiap hari.

Akhirnya sampai pada suatu ketika, saat selesai olah raga, wisnu mencoba mengerjai andy dan sisky.aku sebenernya tau apa yang dilakukan wisnu.tapi aku diam saja karena akujuga ingin tau gimana ekspresi sisky dan andykalau dikerjai wisnu.wisnu mengisi botol minumannya dengan air kamar mandi karena dia tau kalau andy dan sisky akan minta minum kepadanya.

“wisnu, aku minta minum kamu donk, aku haus ni!!”,kata sisky.”oh silakan saja”, jawab wisnu.sisky tak menaru curiga sedikit pun.”hati-hati!!”, aku berkata sambil tertawa. Sisky membagikan minuman tersebut kepada andy.dan mereka pun menghabiskan minuman tersebut.”kamu habiskan minum milik wisnu ya!, kamu tau gak kalau minuman tadi terisi air dari kamar mandi”,aku memberi tahu sisky dan andy.”apa!!!”,serentak sisky dan andy berteriak.mereka pun muntah-muntah.wisnu dan aku pun tertawa terbahak.sisky pun marah dana dipanggilnya wisnu.”beraninya kamu mengerjai aku”,bentak sisky.”teman-teman kita kerjai balik wisnu”, sisky mengajak andy,hari dan fikri.wisnu ditelanjang di depan kelas.semuanya tertawa termasuk aku.

Setelah kejadian tersebut, keesokan harinya wisnu tidak masuk sekolah. Kabarnya si wisnu sakit.karena wisnu tidak masuk sekolah, sisky dan teman-teman gengnya bosan di kelas.tidak ada lagi anak yang bias dijahili seperti wisnu.”kok diem semua ni”,kataku kepada mereka.”diam aja kamu!”,sahut sisky pemimpin geng tersebut bicara kepadaku.”enggak ada lagi anak yang bias kerjai lagi ya!!, kasihan deh kalian”,ejekku .”makanyajadi anak tujangan begejekan melulu, contoh ni seperti aku.aku enggak begekan seperti kalian”,kataku menasehati merka.

Seminggu sudah wisnu tidak masuk sekolah.sisky dan teman-teman gengnya merasa bersalah kepada wisnu. Mereka takut kalau wisnu sakit parah.”kalian sadar kan!!seminggu sudah wisnu enggak masuk sekolah ,kalau terjadi apa-apa dengan wisnu gmn”,kataku kepada sisky dan teman-temannya.”iya,kami sudah sadar kok.nanti kalau wisnu sudah masuk sekolah, kami akan meminta maaf kepada wisnu”,kata sisky mewakili teman-temannya.akhirnya keesokan harinya wisnu masuk sekolah,sisky dan teman-temannya meminta maaf kepada wisnu.kelas pun sekarang tidak gaduh lagi.akhirnya semua anak dikelasku naik ke kelas 2.kami merasa gembira sekali.walaupun kaminakal tapi kami tidak lupa untuk terus selalu belajar.

RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan : MA. Darunnajah
Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Kelas/Semester : XI MA Jurusan Keagamaan / I
Alokasi Waktu : 7 x 40 menit

Standar Kompetensi : Menguasai 25 kosakata baru dengan struktur kalimat (tarkib al-kalimat) yang benar dan baik sesuai dengan tema-tema yang tersedia dalam materi pokok, peserta didik memiliki skill untuk memahami teks-teks berbahasa Arab serta menggunakannya dalam bahasa percakapan dan insyâ’ muwajjah

Kompetansi Dasar : Membaca, memahami, berbicara dan menulis dalam insyâ` muwajjah tentang نظام المدرسة dengan struktur kalimat yang mengandung bentuk-bentuk kata النكرة والمعرفة.
Indikator Hasil Pembelajaran :
Setelah proses pembelajaran diharapkan siswa mampu:
• Membaca bahan qirâ`ah dengan lafal & intonasi yang baik & benar;
• Menjawab pertanyaan-pertanyaan/latihan tentang pemahaman yang berbentuk objektif mengenai kandungan bahan qirâ`ah.
• Membedakan antara bentuk-bentuk kata النكرة والمعرفة yang terdapat dalam kalimat.
• Melakukan tanya jawab tentang bahan bacaan dalam bahasa Arab yang telah diprogramkan.
• Menulis kalimat-kalimat Arab dalam imlâ` ikhtibârîy;
• Menyusun kalimat-kalimat sederhana dalam kegiatan insyâ` muwajjah yang mengandung bentuk kata اسم النكرة والمعرفة.
1. Tujuan Pembelajaran
Membaca bahan qirâ`ah tentang: نظام المدرسة dengan menggunakan 25 mufradât baru dan struktur kalimat yang mengandung bentuk-bentuk kata النكرة والمعرفة Bercakap dalam bentuk tanya jawab yang diambil dari bahan qirâ`ah
Menulis kalimat dengan menggunakan mufradât dan bentuk-bentuk kata tersebut dalam bentuk muwajjah
2. Meteri Ajar
Kosakata tentang: نظام المدرسة
Struktur kalimat yang mengandung bentuk-bentuk kata النكرة والمعرفة
Qira’ah tentang نظام المدرسة
Percakapan yang diambil dari bahan qirâ’ah
Latihan menulis kalimat dengan mufradât dan struktur kalimat yang mengandung اسم النكرة والمعرفة

3. MetodePembelajaran
1. METODE HIWAR :
2. EKLEKTIK

4. Langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
a. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa agar siap memulai pelajaran
b. Mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa
c. Melakukan tes penjajakan [pre-tes] dan mengidentifikasi keadaan siswa
d. Mengingatkan pelajaran yang telah diterima dan mengaitkan pada pelajaran baru
e. Penjelasan singkat tentang tujuan dan proses pembelajaran yang akan dijalani siswa

2. Kegiatan Inti
1. Ada baiknya guru memulai pelajaran dengan memberikan cerita aktual yang terkait dengan kehidupan siswa yang emmiliki keterkaitan dengan tema pembelajaran.
2. Sebelum guru membaca buku pelajaran yang akan dipelajari, suruhlah siswa untuk membuka buku bacaannya dan menyimak bacaan yang dibacakan guru secara baik dan tertib. Setelah selesai membaca adakanlah bersoal jawab dengan siswa, sehingga mengerti dan paham betul mengenai bacaan tersebut.
3. Guru menawarkan kepada murid, untuk mengulangi bacaan yang baru saja dibaca gurunya, kemudian menunjuk di antara yang pandai untuk membaca, sedangkan yang lain aktif menyimak dan memperhatikan bacaan temannya itu.
4. Pada tingkat awal [awam], membaca hendaklah dibunyikan dengan suara yang keras. Sedangkan pada tingkat atas dan tinggi kadang-kadang membaca cukup di dalam hati, tetapi dengan bersuara lebih utama.
5. Setelah selesai membaca di antara siswa yang disuruh tadi, maka kemudian adakanlah diskusi dan bersoal jawab terhadap bacaan tersebut, apakah terdapat kekurangan atau kesalahan. Apabila terdapat kesalahan, suruhlah temannya yang lain untuk membenarkannya. Dalam hal ini hendaknya diperhatikan juga, bahwa dalam membetulkan suatu kesalahan, janganlah di saat-saat “kalimat” yang dibaca belum selesai. Sebab hal itu akan dapat berakibat makna bacaan menjadi terputus, disamping dapat menghambat konsentrasi siswa.
6. Apabila bahan bacaan itu terlalu panjang, maka sebaiknya bacaan tersebut dibagi-bagi dalam bagian pendek atau kecil, agar sederhana dan mudah dimengerti. Setelah bagian tertentu dapat diselesaikan, maka dilanjutkan pada bagian yang lain, sehingga akhirnya sampai selesai, secara keseluruhan.
7. Dalam memberikan penjelasan, hendaklah disertai dengan contoh-contoh, dan menuliskan arti kata-kata sulitnya di papan tulis untuk dicatat oleh siswa.
8. Sebelum mengakhiri pelajaran, sebaiknya guru tidak lupa menyisipkan kata-kata nasihat kepada siswa agar tergugah dan terangsang untuk giat belajar, rajin mengulangi pelajaran yang dipelajari

3. Kegiatan Akhir
a. Memberikan penegasan dan menyimpulkan materi ajar yang sudah dipelajari
b. Memberikan post tes untuk mengetahui hasil pembelajaran
c. Memberikan tugas mandiri untuk mendalami materi ajar

5. Alat/Bahan/Sumber Belajar
a. Lembar peraga yang berisi peta konsep sesuai materi ajar
b. Lembar peraga yang berisi sketsa penerapan konsep sesuai materi
c. Buku Ajar / buku paket
d. Buku referensi sesuai dengan mata perlajaran yang diajarkan
e. Lembar Kegiatan Siswa.

6. Penilaian
a. Kognitif [Tes Lisan / Tulis]
No ITEM SOAL Bobot Catatan
01 Bacalah bahan qirâ`ah dengan lafal & intonasi yang benar; 3
02 Simpulkan isi kandungan bahan qirâ`ah 4
03 Jelaskan dengan contoh perbedaan antara bentuk kata اسم النكرة والمعرفة yang terdapat dalam kalimat 4
04 Tulislah kalimat-kalimat Arab dalam imlâ` ikhtibârîy 4
05 Susunlah kalimat sederhana dalam kegiatan insyâ` muwajjah yang mengandung bentuk kata اسم النكرة والمعرفة 5

b. Afektif [ Pengamatan Minat dan Sikap]
No Nama Siswa Aspek Penilaian Afektif Jumlah Skor Nilai Catatan
Respon Disiplin Kerja Sama Tuntas Tugas
01
02
03

c. Psikomotorik [Unjuk Kerja]
No Nama Siswa Aspek Penilaian Psikomotorik Jumlah Skor Nilai Catatan Guru
Penguasaan Sistematika Kecakapan Mutu Karya
01
02
03

Mengetahui
Kepala Madrasah

H. AGUS SUGIANTO, S. Ag
Jakarta, Januari 2009

Penyusun
Guru Mata pelajaran

H. NURKHAMID, Lc., M.Pd.

artikel

Tawadhu’ Kunci Kemuliaan Diri

KotaSantri.com : “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku: Tawadhulah (rendah hatilah) hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.” (HR. Muslim dari Ijadl bin Himar RA).

Nafsu manusia senantiasa berseberangan dengan nilai-nilai kemuliaan dan kehormatan diri manusia. Apabila hawa nafsu tidak mengikuti petunjuk ilahi, niscaya kehinaanlah yang akan disandang manusia selama hidupnya. Hal ini, bukanlah masalah yang menimpa orang-orang bodoh tidak berilmu, tetapi bisa pula membelit kaum berilmu (ulama) dan cendekiawan. Tidak khusus menimpa orang-orang miskin dan tidak berpangkat, tetapi bisa pula menimpa para hartawan dan para pejabat.

Di antara nafsu yang menghinakan manusia adalah sikap tinggi hati terhadap sesama orang-orang beriman. Sikap ini janganlah dikira hanya akan menimpa orang-orang yang bodoh dan malas beribadah. Bahkan, bisa jadi ia tumbuh subur dalam dada orang-orang berilmu dan di hati mereka yang ahli ibadah. Orang-orang berilmu yang tinggi hati ditunjukkan dengan merasa diri lebih pintar dan menganggap orang lain bodoh. Sikap ini bisa ditunjukkan dengan cara yang kasat mata, seperti sikap yang angkuh atau kata-kata pedas, namun bisa pula diwujudkan dalam sikap yang halus seperti senantiasa dalam posisi mengguru dan menasehati karena mengganggap orang lain salah dan tidak tahu, sedangkan ia benar dan mengetahui.

Begitu pula halnya dengan para ahli ibadah yang terjebak dengan penyakit tinggi hati, semakin rajin ia beridabah kian merasa lebih tinggi kedudukannya dibandingkan orang lain. Ia merasa lebih baik dan lebih suci daripada saudaranya yang lain. Lalu, secara diam-diam atau terang-terangan, dengan kata-kata lugas ataupun berbalut bahasa agama, ia mulai merasa berhak menilai dan menghukum orang lain dengan pandangannya sendiri.

Perilaku ini, sedikit pun tidak menambah kemuliaan seseorang, malah merendahkan diri. Jika ketinggian hati menimpa orang berilmu, maka terpuruklah akhlaknya dimata Allah dan manusia. Jika ketinggian hati menimpa ahli ibadah, jatuhlah wibawa dan kemuliaannya di sisi Allah dan ditengah pergaulan manusia. Karena itu, berendah hatilah (tawadhu), sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah SAW dalam hadits diatas. Semakin banyak ilmu yang dimiliki harus semakin keras upaya menundukkan diri dihadapan sesama. Semakin rajin ibadah, semakin kuatlah upaya untuk merendahkan hati diantara saudaranya.

Sungguh, godaan dan ujian yang menimpa para ulama dan ahli ibadah, jauh lebih besar dan berat dibandingkan terhadap orang-orang bodoh dan malas ibadah. Kian tinggi kedudukan, kian besar pulalah usaha merendahkan hati. Karena, ketinggian kedudukan sangat mudah untuk menggelincirkan nafsu untuk berbuat sesuka hati. Kedalaman ilmu kian membuka nafsu untuk menenggelamkan kemuliaan diri seseorang. Betapa banyaknya orang-orang berilmu mengumbar hawa nafsunya dengan ilmu yang dimilikinya. Seluruh tindak-tanduknya mendapatkan pembenarannya. Ilmunya mengikuti hawa nafsunya.

Betapa mudahnya kesombongan muncul beriringan dengan sikap tinggi hati. Tidaklah mesti kesombongan itu berwujud kata-kata yang merendahkan dan memuji diri, bahkan ia bisa pula berhias dengan kata-kata yang seolah merendahkan diri dan menghinakan diri namun menunjukkan keangkuhan. Mengumbar kehinaan diri dan kerendahatian di hadapan orang lain, seolah menunjukkan keshalihan dan kerendahatian, pun indikasi ketinggian hati yang sombong.

Hormatilah orang lain sebagaimana syari’ah Islam mengajarkan. Kerendahatian seseorang dalam pergaulan bisa dilihat dari upayanya untuk selalu terikat kepada aturan Allah di dalam pergaulan. Kerendahatian orang-orang berilmu dengan mudah bisa dilihat dari pengamalannya dalam keseharian. Aqidah dan keimanan yang mantap selalu beriringan dengan keterikatannya dengan syari’ah. Keshalihan semu bila orang menunjukkan ahli ibadah namun ia tidak peduli syari’ah dalam kesehariannya. Kemuliaan palsu bila kerendahatian dalam kata-kata tidak selaras dengan syari’ah dalam menempatkan diri, sikap dan perilakunya.

Karena itu tawadhulah dengan tidak menyombongkan diri dan tidak dzalim terhadap saudaranya. Perhatikanlah ini, karena itulah kunci kemuliaan diri. Sombong, sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW, adalah merendahkan orang lain dan menolak kebenaran. Sehingga kesombongan tidak selalu identik dengan pakaian yang bagus dan kendaraan yang baik. Dan kerendahatian tidak selalu ditunjukkan dengan kata-kata halus berbalut ilmu agama.

Sedangkan dzalim adalah kondisi kebalikan dari adil. Dzalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Kedalaman ilmu untuk membenarkan hawa nafsu adalah kedzaliman atas ilmu yang dimilikinya. Betapa banyaknya hokum menjadi bengkok dengan ilmu. Betapa mudahnya ilmu membenarkan hawa nafsu dan merobek-robek hijab dalam pergaulan masyarakat. Ilmu yang tidak tumbuh dalam hati yang bersih dan terjaga akan menjadi kedzaliman bagi dirinya maupun orang lain.

Bila kita mampu menundukkan diri dihadapan orang lain, dengan menghindari sikap sombong dan dzalim, niscaya kemuliaan diri akan datang dengan sendirinya. Sungguh, kemuliaan tidak mungkin diraih dengan ketinggian hati. Kewibawaan tidak bisa tumbuh dengan sikap sombong sebagaimana kehormatan diri tidak mungkin melekat pada orang-orang yang dzalim. Wallahu a’lam bishshawab

artikel remaja

Beberapa Permasalahan Remaja

Keluarga – Bagi sebagian besar orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan terhadap saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun saat itu.

Sementara banyak orangtua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orangtua dan remaja itu sendiri.

Banyak orangtua yang tetap menganggap anak remaja mereka masih perlu dilindungi dengan ketat sebab di mata orangtua para anak remaja mereka masih belum siap menghadapi tantangan dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari jatidiri yang mandiri dari pengaruh orangtua.

Keduanya memiliki kesamaan yang jelas: remaja adalah waktu yang kritis sebelum menghadapi hidup sebagai orang dewasa.

Sebetulnya, apa yang terjadi sehingga remaja merupakan memiliki dunia tersendiri? Mengapa para remaja seringkali merasa tidak dimengerti dan tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya? Mengapa remaja seolah-olah memiliki masalah unik dan tidak mudah dipahami?

Masa Remaja

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun.

Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi.

Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.

Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memhami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut.

Dimensi Biologis

Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.

Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing Hormone (LH).

Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone.

Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif.

Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.

Dimensi Kognitif

Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations).

Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya.

Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri.

Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.

Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi.

Hal ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir anak.

Penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya.

Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.

Dimensi Moral

Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka.

Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb.

Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangkan lebih banyak alternatif lainnya.

Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya.

Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.

Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir mereka dengan “kenyataan” yang baru.

Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap “pemberontakan” remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu.

Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya.

Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut.

Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik.

Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya.

Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam.

Dimensi Psikologis

Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama.

Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.

Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri.

Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran.

Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”.

Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya.

Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.

Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang.

Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab.

Rasa percaya diri dan rasa tanggung-jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati-diri positif pada remaja. Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan.

Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai “seseorang yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya.

Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para “idola”nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja.

Salah satu topik yang paling sering dipertanyakan oleh individu pada masa remaja adalah masalah “Siapakah Saya?” Pertanyaan itu sah dan normal adanya karena pada masa ini kesadaran diri (self-awareness) mereka sudah mulai berkembang dan mengalami banyak sekali perubahan.

Remaja mulai merasakan bahwa “ia bisa berbeda” dengan orangtuanya dan memang ada remaja yang ingin mencoba berbeda. Inipun hal yang normal karena remaja dihadapkan pada banyak pilihan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila remaja selalu berubah dan ingin selalu mencoba – baik dalam peran sosial maupun dalam perbuatan.

Contoh: anak seorang insinyur bisa saja ingin menjadi seorang dokter karena tidak mau melanjutkan atau mengikuti jejak ayahnya. Ia akan mencari idola seorang dokter yang sukses dan berusaha menyerupainya dalam tingkah-laku. Bila ia merasakan peran itu tidak sesuai, remaja akan dengan cepat mengganti peran lain yang dirasakannya “akan lebih sesuai”.

Begitu seterusnya sampai ia menemukan peran yang ia rasakan “sangat pas” dengan dirinya. Proses “mencoba peran” ini merupakan proses pembentukan jati-diri yang sehat dan juga sangat normal.

Tujuannya sangat sederhana; ia ingin menemukan jati-diri atau identitasnya sendiri. Ia tidak mau hanya menurut begitu saja keingingan orangtuanya tanpa pemikiran yang lebih jauh.

Banyak orangtua khawatir jika “percobaan peran” ini menjadi berbahaya. Kekhawatiran itu memang memiliki dasar yang kuat.

Dalam proses “percobaan peran” biasanya orangtua tidak dilibatkan, kebanyakan karena remaja takut jika orangtua mereka tidak menyetujui, tidak menyenangi, atau malah menjadi sangat kuatir. Sebaliknya, orangtua menjadi kehilangan pegangan karena mereka tiba-tiba tidak lagi memiliki kontrol terhadap anak remaja mereka.

Pada saat inilah, kehilangan komunikasi antara remaja dan orangtuanya mulai terlihat. Orangtua dan remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda sehingga salah paham sangat mungkin terjadi.

Salah satu upaya lain para remaja untuk mengetahui diri mereka sendiri adalah melalui tes-tes psikologis, atau yang di kenal sebagai tes minat dan bakat. Test ini menyangkut tes kepribadian, tes intelegensi, dan tes minat.

Psikolog umumnya dilatih untuk menggunakan alat tes itu. Alat tes yang saat ini umum diberikan oleh psikolog di Indonesia adalah WISC, TAT, MMPI, Stanford-Binet, MBTI, dan lain-lain. Alat-alat tes juga beredar luas dan dapat ditemukan di toko buku atau melalui internet; misalnya tes kepribadian.

Walau terlihat sederhana, dampak dari hasil test tersebut akan sangat luas. Alat test psikologi dapat diibaratkan sebuah pisau lipat yang terlihat sekilas tidak berbahaya; namun di tangan orang yang “bukan ahlinya” atau yang kurang bertanggung-jawab, alat ini akan menjadi sangat berbahaya.

Alat tes jika diinterpretasikan secara salah atau tidak secara menyeluruh oleh orang yang tidak berpengalaman atau tidak memiliki dasar ilmu yang cukup untuk mengartikan secara obyektif akan membuat kebingungan dan malah membawa efek negatif.

Akibatnya, para remaja akan merasa lebih bingung dan lebih tidak merasa yakin akan hasil tes tersebut. Oleh karena itu sangatlah dianjurkan untuk mencari psikolog yang memang sudah terbiasa memberikan tes psikologi dan memiliki Surat Rekomendasi Ijin Praktek (SRIP), sehingga dapat menjamin obyektivitas test tersebut.

Satu hal yang perlu diingat adalah hasil test psikologi untuk remaja sebaiknya tidak ditelah mentah-mentah atau dijadikan patokan yang baku mengingta bahwa masa remaja meruipakan masa yang snagat erat dengan perubahan.

Alat tes ini tidak semestinya dijadikan buku primbon atau acuan kaku dalam penentuan langkah untuk masa depan, misalnya dalam mencari sekolah atau mencari karir yang cocok.

Seringkali, seiring dengan perkembangan remaja dan perubahan lingkungan sekitarnya, konklusi yang diterima dari hasil test bisa berubah dan menjadi tidak relevan lagi. Hal ini wajar mengingat bahwa minat seorang remaja sangat labil dan mudah berubah.

Sehubungan dengan explorasi diri melalui internet atau media massa yang lain, remaja hendaknya berhati-hati dalam menginterpretasikan hasil-hasil yang di dapat dari tes-tes psikologi online melalui internet.

Harap diingat bahwa banyak diantara tes tersebut masih sebatas ujicoba dan belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu dibutuhkan kejujuran untuk mampu menerima diri apa adanya sehingga remaja tidak mengembangkan identitas “virtual” yang berbeda dengan diri yang asli.

Selain beberapa dimensi yang telah disebutkan diatas, masih ada dimensi-dimensi yang lain dalam kehidupan remaja yang belum sempat dibahas dalam artikel ini. Salah satu dari dimensi tersebut diantaranya adalah dimensi sosial.

Tips untuk Orangtua

Dalam kebudayaan timur, masih banyak orangtua yang menganggap anak adalah milik orangtua, padahal seperti yang dituliskan oleh Khalil Gibran: Anak Hanya Titipan Sang Pencipta. Ia bukan kepanjangan tangan orangtua. Ia berhak memiliki kehidupannya sendiri, menentukan apa yang terbaik bagi dirinya.

Tentu saja peran orangtua sangat besar sebagai pembimbing. Dalam usia remaja, kemampuan penentuan diri inilah yang semestinya dilatih. Remaja seperti juga semua manusia lainnya – belajar dari kesalahan.

Bagi para orangtua ada baiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Mulailah menganggap anak remaja sebagai teman dan akuilah ia sebagai orang yang akan berangkat dewasa. Seringkali orangtua tetap memperlakukan anak remaja mereka seperti anak kecil, meskipun mereka sudah berusaha menunjukkan bahwa keberadaan mereka sebagai calon orang dewasa.

2. Hargai perbedaan pendapat dan ajaklah berdiskusi secara terbuka. Nasihat yang berbentuk teguran atau yang berkesan menggurui akan tidak seefektif forum diskusi terbuka.

Tidak ada yang lebih dihargai oleh para remaja selain sosok orangtua bijak yang bisa dijadikan teman.

3. Tetaplah tegas pada nilai yang anda anut walaupun anak remaja anda mungkin memiliki pendapat dan nilai yang berbeda. Biarkan nilai anda menjadi jangkar yang kokoh di mana anak remaja anda bisa berpegang kembali setelah mereka lelah membedakan dan mempertanyakan alternatif nilai yang lain. Larangan yang kaku mungkin malah akan menyebabkan sikap pemberontakan dalam diri anak anda.

4. Jangan malu atau takut berbagi masa remaja anda sendiri. Biarkan mereka mendengar dan belajar apa yang mendasari perkembangan diri anda dari pengalaman anda. Pada dasarnya, tidak ada anak remaja yang ingin kehilangan orangtuanya.

5. Mengertilah bahwa masa remaja untuk anak anda adalah masa yang sulit. Perubahan mood sering terjadi dalam durasi waktu yang pendek, jadi anda tidak perlu panik jika anak remaja anda yang biasanya riang tiba-tiba bisa murung dan menangis lalu tak lama kemudian kembali riang tanpa sebab yang jelas.

6. Jangan terkejut jika anak anda bereksperimen dengan banyak hal, misalnya mencat rambutnya menjadi biru atau ungu, memakai pakaian serba sobek, atau tiba-tiba ber bungee-jumping ria. Selama hal-hal itu tidak membahayakan, mereka layak mencoba masuk ke dalam dunia yang berbeda dengan dunia mereka saat ini.

Berikanlah ruang pada mereka untuk mencoba berbagai peran yang cocok bagi masa depan mereka. Ada remaja yang menurut tanpa membantah keinginan orangtua mereka dalam menentukan peran mereka, misalnya jika kakek sudah dokter, ayah dokter, kelak iapun “diharapkan dan disiapkan” untuk menjadi dokter pula. Namun ada juga anak remaja yang memang tidak ingin masuk ke dalam dunia yang sama dengan orangtua mereka.

Dalam hal ini janganlah memaksakan anak mengikuti kehendak orangtua. Seperti Kahlil Gibran ….anak hanya titipan, ia milik masa depan dan kita milik masa lalu.

7. Kenali teman-teman anak remaja anda. Bertemanlah dengan mereka jika itu memungkinkan namun waspadalah jika anak anda sangat tertutup dengan dunia remajanya. Mungkin ia tidak/ kurang mempercayai anda atau ada yang disembunyikannya.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat!

SATRA

Idealis dan Pragmatis

Malam sepi tak ada sahabat menemaniku

Aku sendiri otaku memmikirkan tak jelas kemana melayang

Keresahan hati dan rasa muak membelenggu diriku

Kebangkitan dan cahaya pencerahan selalu didambakan

Pragmatisme dan serba instan selalu selalu menghantui imajinasiku

Idealis menjadi barang mahal untuk dimiliki

Pertarungan idealis dan pragmatis tidak bisa damai

Itu suatu pilihan hidup dalam pemikiran manusia

Idealis selalu menjadi menjadi yang terhormat

Pragmatis dianggap kotor dan busuk

Idealis dan pragmatis wacana pemikiran kontradiktif

Idealis yang dicita-citakan hati nurani

Pragmatis yang meruntuhkan cita-cita

Idealis pragmatis mencoba menyesuaikan diri

Butuh kala lapang dan terhimpit

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.