kisah

Anak Kecil Itu Anak Biasa


Citra Niaga namanya. Dulu dimasa jayanya tempat ini adalah pusat perbelanjaan yang diminati di Samarinda (sebelum adanya Mall disini). Tapi sekarang tempat ini hanya pertokoan biasa, tempat menjual pernak-pernik khas daerah sini. Walaupun begitu tempat ini masih menyisakan kenangan masa jayanya dulu. Masih banyak toko-toko besar, cukup besarlah di kota Tepian, Samarinda. Masih ada distributor elektronik, tekstil, de el el. Maklumlah letaknya stategis banget. Tapi sayangnya saat malam tempat ini jadi sarangnya preman, tukang palak, PSK, banci2 g jelas. Gak taulah, Aku sendiri g pernak ke sini saat malam hari, hanya dengar dari orang-orang saja.

Siang itu Aku menemani Adikku yang bermaksud menjual ponsel miliknya, sudah rusak (katanya sie). Hmm… Sebenarnya bukan hanya itu, setelah dijual ia minta dibelikan gantinya (halah…Biasalah para Adek begitu)

Saat Adikku negosiasi, seorang anak kecil menghampiriku, pakaiannya kotor, bau, dan…seperti gak pernah mandi (Heh…) Kulitnya juga ditumbuhi berbagai penyakit kulit, aku tak tahu, bahasa medis penyakit ini.

“Mba, minta uang, Mba…” Katanya memelas.

“Eh… Buat apa kamu uang? Masih kecil gini”

“Mba, minta uang…” Katanya lagi seolah tak mendengar pertanyaanku.

“Untuk apa sayang? Aku ga mau kasih uang, klo makan ayo” Kataku menawarkan.

“Mba…”

“Iya, buat apa coba? Namamu siapa?” Tanyaku lagi.

“Aco” Jawabnya

Tak berapa lama saat aku dan si dekil compang-camping ini berbicara. Datang dua anak yang lain, yang satu lebih tinggi dan lebih kurus dari si Aco. Sedang yang satu lagi lebih kecil dari Aco. Ia anak perempuan yang berpakaian seperti anak laki-laki, rambutnya pendek berwarna kemerahan tak terawat, memakai kemeja, seperti baju sekolah yang dicopot simbolnya. Kuperhatikan mereka bertiga. Ada kesamaan yang kutemui, di baju dekil yang dikenakan mereka, sama-sama dibuatkan semacam kantong besar dari kain bekas, dibuat menggunakan tusuk jelujur asal-asalan. Hmm…Mungkin ini pakaian dinas mereka yach??????

Aku masih disitu, mengajak bicara mereka bertiga.

“bapakmu mana?

“Orang kusta”

“Orang yang kena penyakit kusta” Kata si tinggi menimpali.

“Kamu” Tanyaku pada yang lain.

“orang kusta juga”

Banyak orang kusta ya di Samarinda??????????. Penuh pertanyaan  di kepalaku

Si penjual ponsel ikut nimbrung “Bohong, Mba, bapak ibunya jualan di pelabuhan”

Hmm…

“Ibumu dimana?” Tanyaku pada si kecil perempuan.

“Di rumah, sama Ade” Jawabnya polos.

“Mba, minta uang, buat beli beras” Katanya lagi.

“Gimana klo Mba belikan beras aja?

“Minta uang buat beli susu… Buat Ade aja na Mba…”

“Gak, Mba g mau kasih uang” Kataku tegas

“Gimana klo makan aja, mau ya, makan?”

“Mba…”

“Gak mau pokoknya”

“Mba…”

“Mba-nya g mau kasih uang” Kata si Tinggi.

“Iya, makan aja ya, apa aja, ya…” Kataku merayu si kecil dekil ini.

“Ya udah Mba, nasi goreng ya, yang di sana aj, enak” Kata si Tinggi lagi

Menurutku anak yang tinggi ini lebih dewasa dari 2 yang laen.

“Iya… Yok” Kataku sambil melangkah ke sebuah warung nasi diseberang.

Aku cuek aj menyadari bahwa sebenarnya, mata para penjual dan orang2 lewat tertuju padaku. Mungkin mereka merasa JIJIK pada tiga anak kecil dekil ini. Aku seperti merasakan rasanya jadi mereka, dipandang jijik, dekil, aneh…

“Nasi gorengnya 3 bu” Kataku memesan.

“Ga mau! Minta uang mba” Kata si kecil perempuan.

“1 bungkus aja, kita makan bedua” Kata si tinggi, seolah bicara pada Aco

Aco mengangguk mengiyakan.

“Ya udah, Satu aja, minumnya apa? Tanyaku pada mereka bertiga.

“Aqua aja Mba” Kata si penjual

Aku melirik si tinggi & Aco, dua2nya mengisyaratkan setuju. “Kamu mau apa? Teh botol? Es jeruk?” Kutanya pada si Kecil perempuan.

“Minta uang aja Mba…” Katanya sambil merajuk.

Kuperhatikan anak ini, dia kekeh banget minta uang, sebenarnya untuk apa, ah…Anak sekecil ini. Di saku bajunya yang seperti baju sekolah itu aku menangkap ada beberapa lembar uang, bahkan ada diantaraya uang 20 ribuan. (Hah…?!?!)

“Itu uangnya banyak, dapat dari mana?”

“Mba… Minta uang”

Ngeyel…

Pelayan warung menghampiri kami agak jijik

“Jangan makan disini ya Mba, dibungkus aja” Pintanya.

Aku menatap mereka.

“Iya.” Kata si tinggi.

Aku giring tiga anak ini ke pinggir warung, kasihan juga jika warung ini nantinya gak ada pembeli, cuma gara-gara ada tiga anak dekil yang datang. Atau mungkin malah empat????

Si penjual bergegas membungkuskan pesananku, satu bungkus nasi goreng plus satu botol air mineral. Segera kuberikan bungkusan itu pada si tinggi.

Setelah bilang terimakasih si tinggi dan Aco meninggalkanku. Aku harap mereka senang.

Tapi…gimana dengan si perempuan kecil ini? Ia masih disini, ngeyel…

“Mba…minta uang”

“Gak, kamu mau apa? Mba belikan, klo susu, susu apa?”

“Uang aja Mba…”

Tak lama Adikku menghampiriku dengan motornya.

“Sudah?” Tanyanya.

Aku hanya menganguk dan berjalan kearahnya.

“Mba…na…” Kata si anak perempuan sambil mengikutiku dari belakang.

“Gak!!!”

“Mba…” Katanya memelas.

“Gak sayang…”

“Sudah” Kata Adikku lagi, seolah mengisayratkan padaku untuk segera naik ke jok belakang motor Thundernya, motor ini cukup tinggi hingga si kecil tak bisa menjangkauku. Walau begitu ia masih ngeyel.

“Mba… na…”

“Gak” Jawabku sambil tersenyum pada si kecil itu.

Aku dan Adikku segera meninggalkan tempat itu, menyisakan si kecil perempuan, berrambut pendek, terlihat tak pernah mandi, yang bau dan tampak sangat kesal.

Aku sedih melihat si kecil ini, kenapa Kau Adikku sayang??? Sebenarnya uantuk apa uang yang Kau pinta? Untuk apa uang yang ada di sakumu?

Kaltim itu kaya sayang, Samarinda itu kaya sayang, jika kamu mau sekolah, hingga es em pe masih gratis walaupun bukunya ga gratis. Kamu kenapa sayang??? Kenapa memilih jadi pengemis??? Aku tak suka.

Jadi ingat dulu waktu Aku masih berdomisii di kota ini. Setiap minggu sore ada kegiatan para mahasiswa mengajari mereka belajar, di Mesjid Raya Darussalam. Lentera namanya, Aku hanya ikut beberapa kali, karena letak Mesjid ini Jauh dari rumahku, juga karena kesibukkan kuliahku. Saat itu udah mau KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Sebenarnya didaerah sekaya Kaltim mereka tak perlu mengemis. Tapi diantara mereka ada yang benar-benar punya Ortu pengemis. Apa salah mereka? Apa mereka minta diciptakan jadi pengemis???? Apa mereka juga mau lahir jadi pengemis? Mereka juga ingin lahir sebagai anak2 yang tiap hari mendengar ucapan sayang dari orang tua mereka. Coba kalian pikir, berapa kali kira-kira mereka mendengar panggilan sayang dari Ibunya dalam sehari? Berapa kali mereka dikecup Ibunya dalam sehari? Hampir gak pernah, Orang tua mereka sibuk jadi kuli angkut di pasar-pasar atau pelabuhan. Lalu siapa yang mendidik mereka??? Apa preman pasar? Apa tukang palak? Apa para banci? Para PSK?

Miris memikirkan nasib mereka…

Saudara-saudariku, kawan-kawanku, jangan didik mereka jadi pengemis. Kasihani mereka, tapi jangan didik mereka untuk senang jadi pengemis. Itu buruk bagi mental mereka. Jangan jadikan mental mereka mental pengemis, JANGAN. Itu buruk. B-U-R-U-K.

Aku gak tau nasib anak-anak jalanan di Kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya. Tapi…yang dikota kecil ini aja memprihatinkan. Apalagi yang di kota besar, bukan?

Mampukah kita mengubah mental adik-adik kita ini???? Ini butuh peran aktif kita semua kawan-kawan. Tidakkah kalian cinta pada mereka???? Mereka sangat polos & tak tahu apa-apa…

Aku cape mo nulis apa, kawan-kawan, berikan pendapat kalian tentang ini & apa yang harus kita lakukan pada mereka???? APA?

Apa si kecil ini juga nantinya akan menghasilkan keturunan yang juga seorang pengemis???? Sedang tingkat kelahiran penduduk Indonesia selalu lebih tinggi dari tingkat kematian. Apa itu artinya makin hari makin tahun Negara kita akan banyak menampung pengemis????

Kepalaku sakit kawan-kawan, Aku ingin peran aktif kita terhadap mereka, mereka butuh bantuan kita bersama. Bukan hanya orang-orang yang duduk di Gedung DPRD, atau di Istana Negara. Tapi kita. Mereka butuh kita. Tapi bukan sebagai pemberi uang yang hanya membuat mereka senang jadi pengemis.

Mereka hanya anak kecil biasa… Biasa…

Yang ingin main, main dan main.

Sebelum Aku selesaikan tulisanku ini, biar Aku kisahkan pada kalian, dulu saat Aku masih aktif di Lentera. Ada satu anak yang menarik perhatianku saat itu. Anak ini pintar menggambar, Ia bisa menggambar sama persis dengan yang ada di sampul bukunya. Persis, dan Dia tidak menjiplak sama sekali. Dia juga tidak meghilangkan sisi keindahan dari gambarnya. Tau kalian apa artinya ini? Benar… Ia cerdas. Ia punya tingkat ketelitian yang tinggi. Anak ini sangat cerdas. Adakah anak cerdas diantara anak jalanan??? Jawabannya ADA kawan-kawan, dan ini salah satu contohnya.

Trus apa kalian rela, si cerdas ini akan setiap hari melihat preman? Setiap hari melihat PSK merayu pelangganya? Setiap hari melihat tukang Palak? Banci-banci berkeliaran… Rela?????

Mereka hanya anak kecil… yang polos, yang nakal dan lingkunganlah yang membentuk mereka nantinya. Apa akan berbentuk preman? PSK? Tukang Palak? Banci? Ataukah si generasi cerdas????

khutbah09

AKIBAT KESERAKAHAN

اْلحَمْدُ ِلله, اْلحَمْدُ ِللهِ الَّذِى جَنَّبَ عَذَابَهُ عَنِ اْلأَتْقَى، أَشْهَدُ أَنْ

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ شَهَادَةً تُنْجِى قَائِلَهَا مِنْ جَمِيْعِ الرَّدَى. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُجْتَبَى، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى.

(اَمَّا بَعْد) فَيَا اَيُّهَاالنَّاسْ. اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاحْذَرُوا الْمَعَاصِى فَإِنَّهَا مُوْجِيْبَاتٌ لِلْخُسْرَانْ.

أعوذ بالله من الشّيطان الرّجيم. وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوْدًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلاَّ مُفْتَرُوْنَ (هود: 50)

Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah!

Kaum ‘Ad, yang namanyadiabadikan di dalam al-Qur’an, adalah

seorang konglomerat yang sangat kaya. Dengan kekayaannya

yang melimpah ia bisa membeli kekuasaan raja-raja.

Pengaruhnya sangat luar biasa sehingga tak seorangpun berani

menentangnya.

‘Ad memiliki dua orang putra yang bernama Syidad dan Syadid.

Sepeninggal ayahnya, kedua anak ini bersaing untuk memperebutkn harta warisan yang melimpah. Masing-masing

merasa lebih berhak, tanpa ada keinginan untuk saling berbagi.

Perebutan harta warisan ini berakhir dengan terbunuhnya Syadid di tangan saudaranya sendiri.

Di masa kecilnya, Syidad pernah mempelajari kitab suci. Ia

sangat tertarik dengan gambaran surga yang ada di dalamnya.

Dengan harta warisan yang kini menjadi miliknya sendiri, ia

terobesesi untuk mewujudkan surga di bumi.

Niat itu segera ia kemukakan panjang lebar kepada raja-raja yang menjadi kroninya. Tak seorangpun di antara yang hadir menolak rencana itu. Sebaliknya mereka mempersilakan Syidad untuk memintanya memerintahkan apa saja, termasuk mengumpulkan permata, emas dan perak dari seluruh penjuru negeri.

Dengan mengerahkan 300 arsitek kenamaan, proyek raksasa ini

dimulai. Dicarinya lokasi yang paling tepat sesuai dengan yang pernah tergambar dalam kitab suci. Lokasi itu ditumbuhi pohon-pohon rindang yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang amat jernih.

Belum pernah ada bangunan seindah dan semegah taman surga

impian Syidad. Dindingnya terbuat dari emas dan perak,

dengan hiasan permata, intan merah, dan jamrud hijau.

Taman-tamannya luas juga dan indah mempesona. Selain

dipenuhi dengan pohon-pohonan yang rindang, para arsiteknya

sengaja membuat pepohonan tiruan yang daun-daunnya dihiasai

mutiara dan intan merah. Dahan-dahannya dilapisi mutiara dan

permata putih. Air yang mengalir di bawahnya ditaburi minyak

misik dan ambar yang mewangi. Luar biasa.

Akan tetapi ada yang lebih luar biasa lagi, bahwa bangunan ini

terbuat dari bahan-bahan yang diperoleh dari harta rakyat yang

dirampas, baik melalui undang-undang resmi maupun kekuasaan militer. Semua harta kekayaan rakyat dirampas habis, tak bersisa. Sampai-sampai seorang anak yatim yang hanya mempunyai anting-anting emas yang melekat di telinganya, juga ikut dipaksa menyerahkan miliknya.

Bagi para pembesar negara, perhiasan anak yatim yang nilainya

hanya 2 dirham itu tak mempunyai arti sama sekali. Akan tetapi

sebaliknya bagi anak yatim yang terlantar. Dengan tangis pilu, ia dongakkan kepalanya, ia angkat tangannya, kemudian ia berdoa: “Ya Allah, Engkau telah mengetahui segala sesuatu yang dilakukan oleh si zhalim itu. Tolonglah kami ya Allah, Dzat yang sebaik-baiknya penolong.”

Doa yang diamini para malaikat itu segera dikabulkan oleh Allah swt. Maka tak lama kemudian di saat Syidad hendak melakukan sidak, Allah mendatangkan bencana atas dirinya. Syidad bersama ratusan kroninya mati secara nista sebelum menyaksikan taman surga yang menjadi obsesinya.

Allah SWT berfirman:

وَتِلْكَ عَادٌ جَحَدُوْا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْا رُسُلَهُ وَاتَّبَعُوْا أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ (هود: 59)

Dan itulah (kisah) kaum ‘Aad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai Rasul-Rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). (QS. Huud: 59)

Dalam ayat lain, Allah menjelaskan:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوْا بِرِيْحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ (الحاقة:6)

Adapun Kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. (al-haaqah: 6)

Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah!

Kisah di atas tentu sudah banyak mengalami perubahan dari

cerita aslinya. Ada pengurangan, penambahan, penyembunyian

atau penonjolan di sana-sini. Meskipun demikian kisah-kisah

seperti ini mengandung pelajaran dan hikmah yang sangat luas.

Salah satu pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa harta itu

sama dengan pisau bermata dua. Di satu sisi ia memberikan

manfaat yang besar bagi kehidupan manusia, tapi di sisi lain

justru bisa menghancurkannya. Di tangan orang-orang yang

serakah, seperti Syidad, harta itu tidak mendatangkan kemaslahatan hidup, tapi justru memicu kerusakan di mana-mana.

Orang yang serakah tidak pernah puas dengan harta yang sudah

dimilikinya. Sudah punya segunung emas, ia ingin dua gunung.

Punya satu istana, ingin punya dua, tiga dan seterusnya. Tak

cukup memiliki rumah mewah di dalam negeri, ia pun membeli

beberapa istana di manca negara.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,

Seandainya seorang anak Adam telah memiliki dua lembah harta, maka dia akan mencari lembah yang ketiganya. Dan tak akan merasa puas perutnya, melainkan dengan dimasukkan ke dalam tanah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika yang serakah itu orang biasa-biasa saja barangkali tidak

terlalu besar pengaruhnya. Jikapun ada yang dirugikan akibat

keserahannya, barangkali hanya satu sampai sepuluh orang saja.

Akan tetapi jika yang serakah itu orang yang sedang memegang

kekuasaan atau anaknya orang yang berkuasa, maka kerugiannya bisa berlipat ganda. Negara dirugikan, dan rakyat

menjadi tumbalnya.

Pertumpahan darah pertama kali terjadi di dunia ini akibat

keserakahan manusia. Qabil membunuh saudara kandungnya

sendiri karena didorong oleh keserakahan, ingin menguasai istri

adiknya. Dari sifat serakah itu tumbuh iri hati. Tidak boleh ada

orang lain memperoleh hal yang sama dengan dirinya, apalagi

lebih.

Syidad dalam kisah di atas barangkali contoh yang amat ekstrem. Ia tidak hanya ingin menandingi sesama manusia, tapi ingin bertanding dengan Allah swt. Ia ingin memiliki istana atau taman surga sebagaimana yang pernah dijanjikan Allah kepada manusia yang beriman dan beramal shalih.

Akibat keserakahan ini, ia menghalalkan segala cara. Harta rakyat dirampok untuk memenuhi obsesinya. Tak terkecuali rakyat kecil diperas hingga tak keluar lagi airnya. Bila rakyat kecil sudah terzhalimi, Allah pasti akan membelanya. Doa mereka dikabulkan, permintaan mereka dipenuhi.

Rasulullah telah bersabda:

“Waspadalah terhadap doanya orang yang dizhalimi. Sesungguhnya antara dia dengan Allah tidak ada tabir penyekat.” (Mashabih as-Sunnah)

Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah!

Jerit tangis rakyat kecil memang tidak ada yang memperhatikan

di dunia ini. Keberadaan mereka tidak diperhitungkan, kecuali

pada saat-saat menjelang pemilu saja. Pengaduan mereka tak

pernah digubris. Tuntutan mereka tak pernah dilayani. Jangankah diajak berdialog, sedang ditemui secara baik saja itu sudah istimewa. Yang terbanyak, mereka justru diusir, dicaci-maki, dan dituduh macam-macam. Banyak di antaranya yang diseret ke sel, baik melalui jalur hukum maupun yang asal masuk saja.

Kezhaliman itu bisa berupa kezhaliman politik, ekonomi, dan

hukum. Semua bentuk aniaya itu melahirkan ketidakadilan,

pemerkosaan hak, dan pelanggaran hukum. Dalam jangka pendek mungkin kelihatannya menguntungkan pihak yang berbuat zhalim, tapi dalam jangka menengah dan panjang sebaliknya, senjata itu akan makan tuannya sendiri. Orang-orang sombong itu sama dengan membuat lubang untuk mengubur dirinya sendiri.

Tetapi pada kenyataannya, mengapa masih banyak orang yang berbuat zhalim?

Banyak faktor yang mendorongnya. Bisa karena terdorong oleh

kecintaannya yang sangat terhadap dunia, baik berupa wanita,

tahta, maupun harta. Atau karena dorongan nafsu serakah,

sehingga menjadikannya haus dan lapar tiada habis-habisnya.

Kezhaliman juga bisa karena dorongan hasad, iri atau dengki.

Seseorang yang sudah dijangkiti penyakit hati seperti ini akan

terdorong untuk berbuat apa saja, asal dapat memuaskan hatinya.

Ukuran puas baginya, adalah apabila melihat orang lain menjadi menderita karena ulahnya. Kezhaliman seperti ini sungguh sangat berbahaya, apalagi jika menimpa orang-orang yang menggenggam kekuasaan dan kekuatan, senjata ataupun harta.

Karena dampak kezhaliman itu ganda, merugikan korban dan

pelakunya, maka Rasulullah menganjurkan kepada kita agar menolong keduanya. Orang yang dizhalimi hendaknya ditolong dengan berbagai bantuan materi dan mental spritual, sedangkan orang yang berbuat zhalim hendaknya juga ditolong dengan cara dicegah. Jika tidak, Allah akan segera mendatangkan bencana yang besar kepada mereka.

Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah!

Dari uraian diatas bahwa dalam berbisnis atau bertindak, hendaknya kita menghindari sifat serakah karena yang demikian akan menghancurkan diri kita. Dampak dari serakah itu banyak sekali diantaranya adalah Penyakit hati, merugikan orang lain, menimbulkan malapetaka, mata hati dan pendengarannya tuli, pintu masuknya setan  dan keserakahan membawa kita kepada kesengsaraan. Akan tetapi hendaknya kita meiliki sifat-sifat yang baik yaitu sifat zuhud, wara’ (hati-hati), qanaah (merasa puas atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita), pandai mengatur waktu untuk kepentingan dunia dan akhirat, dan pandai mensyukuri nikmat yang ada. Selain itu, kita juga harus meluruskan seluruh niat dalam berusaha, yaitu semata-mata dalam rangka mengabdi kepada Allah guna mendapatkan ridha-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْم. وَنَفَعَنِــى وَاِياَّكُـْــم بِمَا فِـْـيهِ مِنَ اْلايآتِ وَالذِّكْــرِ الْحَكِـْـيم. وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم .

***

الْحَمْدُ ِلله، الْحَمْدُ ِلله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرْ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا  مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحِ الْغُرَرْ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهْ، اِتَّقُوا الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن. وَاعَلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهْ، وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهْ فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْن، وَمَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات وَالْمُسْلِمِيْنِ وَالْمُسْلِمَات اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَات، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَات يَا قَاضِىَ الْحَاجَات وَيَا كَافِىَ الْمُهِمَّات بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن. اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْن، وَاخْذُلِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْن. اللهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْن وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلُمْسلِمِيْن. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا لَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ الله، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحِسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْن وَلِذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.