Anak Kecil Itu Anak Biasa
Citra Niaga namanya. Dulu dimasa jayanya tempat ini adalah pusat perbelanjaan yang diminati di Samarinda (sebelum adanya Mall disini). Tapi sekarang tempat ini hanya pertokoan biasa, tempat menjual pernak-pernik khas daerah sini. Walaupun begitu tempat ini masih menyisakan kenangan masa jayanya dulu. Masih banyak toko-toko besar, cukup besarlah di kota Tepian, Samarinda. Masih ada distributor elektronik, tekstil, de el el. Maklumlah letaknya stategis banget. Tapi sayangnya saat malam tempat ini jadi sarangnya preman, tukang palak, PSK, banci2 g jelas. Gak taulah, Aku sendiri g pernak ke sini saat malam hari, hanya dengar dari orang-orang saja.
Siang itu Aku menemani Adikku yang bermaksud menjual ponsel miliknya, sudah rusak (katanya sie). Hmm… Sebenarnya bukan hanya itu, setelah dijual ia minta dibelikan gantinya (halah…Biasalah para Adek begitu)
Saat Adikku negosiasi, seorang anak kecil menghampiriku, pakaiannya kotor, bau, dan…seperti gak pernah mandi (Heh…) Kulitnya juga ditumbuhi berbagai penyakit kulit, aku tak tahu, bahasa medis penyakit ini.
“Mba, minta uang, Mba…” Katanya memelas.
“Eh… Buat apa kamu uang? Masih kecil gini”
“Mba, minta uang…” Katanya lagi seolah tak mendengar pertanyaanku.
“Untuk apa sayang? Aku ga mau kasih uang, klo makan ayo” Kataku menawarkan.
“Mba…”
“Iya, buat apa coba? Namamu siapa?” Tanyaku lagi.
“Aco” Jawabnya
Tak berapa lama saat aku dan si dekil compang-camping ini berbicara. Datang dua anak yang lain, yang satu lebih tinggi dan lebih kurus dari si Aco. Sedang yang satu lagi lebih kecil dari Aco. Ia anak perempuan yang berpakaian seperti anak laki-laki, rambutnya pendek berwarna kemerahan tak terawat, memakai kemeja, seperti baju sekolah yang dicopot simbolnya. Kuperhatikan mereka bertiga. Ada kesamaan yang kutemui, di baju dekil yang dikenakan mereka, sama-sama dibuatkan semacam kantong besar dari kain bekas, dibuat menggunakan tusuk jelujur asal-asalan. Hmm…Mungkin ini pakaian dinas mereka yach??????
Aku masih disitu, mengajak bicara mereka bertiga.
“bapakmu mana?
“Orang kusta”
“Orang yang kena penyakit kusta” Kata si tinggi menimpali.
“Kamu” Tanyaku pada yang lain.
“orang kusta juga”
Banyak orang kusta ya di Samarinda??????????. Penuh pertanyaan di kepalaku
Si penjual ponsel ikut nimbrung “Bohong, Mba, bapak ibunya jualan di pelabuhan”
Hmm…
“Ibumu dimana?” Tanyaku pada si kecil perempuan.
“Di rumah, sama Ade” Jawabnya polos.
“Mba, minta uang, buat beli beras” Katanya lagi.
“Gimana klo Mba belikan beras aja?
“Minta uang buat beli susu… Buat Ade aja na Mba…”
“Gak, Mba g mau kasih uang” Kataku tegas
“Gimana klo makan aja, mau ya, makan?”
“Mba…”
“Gak mau pokoknya”
“Mba…”
“Mba-nya g mau kasih uang” Kata si Tinggi.
“Iya, makan aja ya, apa aja, ya…” Kataku merayu si kecil dekil ini.
“Ya udah Mba, nasi goreng ya, yang di sana aj, enak” Kata si Tinggi lagi
Menurutku anak yang tinggi ini lebih dewasa dari 2 yang laen.
“Iya… Yok” Kataku sambil melangkah ke sebuah warung nasi diseberang.
Aku cuek aj menyadari bahwa sebenarnya, mata para penjual dan orang2 lewat tertuju padaku. Mungkin mereka merasa JIJIK pada tiga anak kecil dekil ini. Aku seperti merasakan rasanya jadi mereka, dipandang jijik, dekil, aneh…
“Nasi gorengnya 3 bu” Kataku memesan.
“Ga mau! Minta uang mba” Kata si kecil perempuan.
“1 bungkus aja, kita makan bedua” Kata si tinggi, seolah bicara pada Aco
Aco mengangguk mengiyakan.
“Ya udah, Satu aja, minumnya apa? Tanyaku pada mereka bertiga.
“Aqua aja Mba” Kata si penjual
Aku melirik si tinggi & Aco, dua2nya mengisyaratkan setuju. “Kamu mau apa? Teh botol? Es jeruk?” Kutanya pada si Kecil perempuan.
“Minta uang aja Mba…” Katanya sambil merajuk.
Kuperhatikan anak ini, dia kekeh banget minta uang, sebenarnya untuk apa, ah…Anak sekecil ini. Di saku bajunya yang seperti baju sekolah itu aku menangkap ada beberapa lembar uang, bahkan ada diantaraya uang 20 ribuan. (Hah…?!?!)
“Itu uangnya banyak, dapat dari mana?”
“Mba… Minta uang”
Ngeyel…
Pelayan warung menghampiri kami agak jijik
“Jangan makan disini ya Mba, dibungkus aja” Pintanya.
Aku menatap mereka.
“Iya.” Kata si tinggi.
Aku giring tiga anak ini ke pinggir warung, kasihan juga jika warung ini nantinya gak ada pembeli, cuma gara-gara ada tiga anak dekil yang datang. Atau mungkin malah empat????
Si penjual bergegas membungkuskan pesananku, satu bungkus nasi goreng plus satu botol air mineral. Segera kuberikan bungkusan itu pada si tinggi.
Setelah bilang terimakasih si tinggi dan Aco meninggalkanku. Aku harap mereka senang.
Tapi…gimana dengan si perempuan kecil ini? Ia masih disini, ngeyel…
“Mba…minta uang”
“Gak, kamu mau apa? Mba belikan, klo susu, susu apa?”
“Uang aja Mba…”
Tak lama Adikku menghampiriku dengan motornya.
“Sudah?” Tanyanya.
Aku hanya menganguk dan berjalan kearahnya.
“Mba…na…” Kata si anak perempuan sambil mengikutiku dari belakang.
“Gak!!!”
“Mba…” Katanya memelas.
“Gak sayang…”
“Sudah” Kata Adikku lagi, seolah mengisayratkan padaku untuk segera naik ke jok belakang motor Thundernya, motor ini cukup tinggi hingga si kecil tak bisa menjangkauku. Walau begitu ia masih ngeyel.
“Mba… na…”
“Gak” Jawabku sambil tersenyum pada si kecil itu.
Aku dan Adikku segera meninggalkan tempat itu, menyisakan si kecil perempuan, berrambut pendek, terlihat tak pernah mandi, yang bau dan tampak sangat kesal.
Aku sedih melihat si kecil ini, kenapa Kau Adikku sayang??? Sebenarnya uantuk apa uang yang Kau pinta? Untuk apa uang yang ada di sakumu?
Kaltim itu kaya sayang, Samarinda itu kaya sayang, jika kamu mau sekolah, hingga es em pe masih gratis walaupun bukunya ga gratis. Kamu kenapa sayang??? Kenapa memilih jadi pengemis??? Aku tak suka.
Jadi ingat dulu waktu Aku masih berdomisii di kota ini. Setiap minggu sore ada kegiatan para mahasiswa mengajari mereka belajar, di Mesjid Raya Darussalam. Lentera namanya, Aku hanya ikut beberapa kali, karena letak Mesjid ini Jauh dari rumahku, juga karena kesibukkan kuliahku. Saat itu udah mau KKN (Kuliah Kerja Nyata).
Sebenarnya didaerah sekaya Kaltim mereka tak perlu mengemis. Tapi diantara mereka ada yang benar-benar punya Ortu pengemis. Apa salah mereka? Apa mereka minta diciptakan jadi pengemis???? Apa mereka juga mau lahir jadi pengemis? Mereka juga ingin lahir sebagai anak2 yang tiap hari mendengar ucapan sayang dari orang tua mereka. Coba kalian pikir, berapa kali kira-kira mereka mendengar panggilan sayang dari Ibunya dalam sehari? Berapa kali mereka dikecup Ibunya dalam sehari? Hampir gak pernah, Orang tua mereka sibuk jadi kuli angkut di pasar-pasar atau pelabuhan. Lalu siapa yang mendidik mereka??? Apa preman pasar? Apa tukang palak? Apa para banci? Para PSK?
Miris memikirkan nasib mereka…
Saudara-saudariku, kawan-kawanku, jangan didik mereka jadi pengemis. Kasihani mereka, tapi jangan didik mereka untuk senang jadi pengemis. Itu buruk bagi mental mereka. Jangan jadikan mental mereka mental pengemis, JANGAN. Itu buruk. B-U-R-U-K.
Aku gak tau nasib anak-anak jalanan di Kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya. Tapi…yang dikota kecil ini aja memprihatinkan. Apalagi yang di kota besar, bukan?
Mampukah kita mengubah mental adik-adik kita ini???? Ini butuh peran aktif kita semua kawan-kawan. Tidakkah kalian cinta pada mereka???? Mereka sangat polos & tak tahu apa-apa…
Aku cape mo nulis apa, kawan-kawan, berikan pendapat kalian tentang ini & apa yang harus kita lakukan pada mereka???? APA?
Apa si kecil ini juga nantinya akan menghasilkan keturunan yang juga seorang pengemis???? Sedang tingkat kelahiran penduduk Indonesia selalu lebih tinggi dari tingkat kematian. Apa itu artinya makin hari makin tahun Negara kita akan banyak menampung pengemis????
Kepalaku sakit kawan-kawan, Aku ingin peran aktif kita terhadap mereka, mereka butuh bantuan kita bersama. Bukan hanya orang-orang yang duduk di Gedung DPRD, atau di Istana Negara. Tapi kita. Mereka butuh kita. Tapi bukan sebagai pemberi uang yang hanya membuat mereka senang jadi pengemis.
Mereka hanya anak kecil biasa… Biasa…
Yang ingin main, main dan main.
Sebelum Aku selesaikan tulisanku ini, biar Aku kisahkan pada kalian, dulu saat Aku masih aktif di Lentera. Ada satu anak yang menarik perhatianku saat itu. Anak ini pintar menggambar, Ia bisa menggambar sama persis dengan yang ada di sampul bukunya. Persis, dan Dia tidak menjiplak sama sekali. Dia juga tidak meghilangkan sisi keindahan dari gambarnya. Tau kalian apa artinya ini? Benar… Ia cerdas. Ia punya tingkat ketelitian yang tinggi. Anak ini sangat cerdas. Adakah anak cerdas diantara anak jalanan??? Jawabannya ADA kawan-kawan, dan ini salah satu contohnya.
Trus apa kalian rela, si cerdas ini akan setiap hari melihat preman? Setiap hari melihat PSK merayu pelangganya? Setiap hari melihat tukang Palak? Banci-banci berkeliaran… Rela?????
Mereka hanya anak kecil… yang polos, yang nakal dan lingkunganlah yang membentuk mereka nantinya. Apa akan berbentuk preman? PSK? Tukang Palak? Banci? Ataukah si generasi cerdas????
