RPP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan : MA. Darunnajah
Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Kelas/Semester : XI MA Jurusan Keagamaan / I
Alokasi Waktu : 7 x 40 menit

Standar Kompetensi : Menguasai 25 kosakata baru dengan struktur kalimat (tarkib al-kalimat) yang benar dan baik sesuai dengan tema-tema yang tersedia dalam materi pokok, peserta didik memiliki skill untuk memahami teks-teks berbahasa Arab serta menggunakannya dalam bahasa percakapan dan insyâ’ muwajjah

Kompetansi Dasar : Membaca, memahami, berbicara dan menulis dalam insyâ` muwajjah tentang نظام المدرسة dengan struktur kalimat yang mengandung bentuk-bentuk kata النكرة والمعرفة.
Indikator Hasil Pembelajaran :
Setelah proses pembelajaran diharapkan siswa mampu:
• Membaca bahan qirâ`ah dengan lafal & intonasi yang baik & benar;
• Menjawab pertanyaan-pertanyaan/latihan tentang pemahaman yang berbentuk objektif mengenai kandungan bahan qirâ`ah.
• Membedakan antara bentuk-bentuk kata النكرة والمعرفة yang terdapat dalam kalimat.
• Melakukan tanya jawab tentang bahan bacaan dalam bahasa Arab yang telah diprogramkan.
• Menulis kalimat-kalimat Arab dalam imlâ` ikhtibârîy;
• Menyusun kalimat-kalimat sederhana dalam kegiatan insyâ` muwajjah yang mengandung bentuk kata اسم النكرة والمعرفة.
1. Tujuan Pembelajaran
Membaca bahan qirâ`ah tentang: نظام المدرسة dengan menggunakan 25 mufradât baru dan struktur kalimat yang mengandung bentuk-bentuk kata النكرة والمعرفة Bercakap dalam bentuk tanya jawab yang diambil dari bahan qirâ`ah
Menulis kalimat dengan menggunakan mufradât dan bentuk-bentuk kata tersebut dalam bentuk muwajjah
2. Meteri Ajar
Kosakata tentang: نظام المدرسة
Struktur kalimat yang mengandung bentuk-bentuk kata النكرة والمعرفة
Qira’ah tentang نظام المدرسة
Percakapan yang diambil dari bahan qirâ’ah
Latihan menulis kalimat dengan mufradât dan struktur kalimat yang mengandung اسم النكرة والمعرفة

3. MetodePembelajaran
1. METODE HIWAR :
2. EKLEKTIK

4. Langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
a. Mengamati dan mengarahkan sikap siswa agar siap memulai pelajaran
b. Mengawali pembelajaran dengan mengucapkan salam dan berdoa
c. Melakukan tes penjajakan [pre-tes] dan mengidentifikasi keadaan siswa
d. Mengingatkan pelajaran yang telah diterima dan mengaitkan pada pelajaran baru
e. Penjelasan singkat tentang tujuan dan proses pembelajaran yang akan dijalani siswa

2. Kegiatan Inti
1. Ada baiknya guru memulai pelajaran dengan memberikan cerita aktual yang terkait dengan kehidupan siswa yang emmiliki keterkaitan dengan tema pembelajaran.
2. Sebelum guru membaca buku pelajaran yang akan dipelajari, suruhlah siswa untuk membuka buku bacaannya dan menyimak bacaan yang dibacakan guru secara baik dan tertib. Setelah selesai membaca adakanlah bersoal jawab dengan siswa, sehingga mengerti dan paham betul mengenai bacaan tersebut.
3. Guru menawarkan kepada murid, untuk mengulangi bacaan yang baru saja dibaca gurunya, kemudian menunjuk di antara yang pandai untuk membaca, sedangkan yang lain aktif menyimak dan memperhatikan bacaan temannya itu.
4. Pada tingkat awal [awam], membaca hendaklah dibunyikan dengan suara yang keras. Sedangkan pada tingkat atas dan tinggi kadang-kadang membaca cukup di dalam hati, tetapi dengan bersuara lebih utama.
5. Setelah selesai membaca di antara siswa yang disuruh tadi, maka kemudian adakanlah diskusi dan bersoal jawab terhadap bacaan tersebut, apakah terdapat kekurangan atau kesalahan. Apabila terdapat kesalahan, suruhlah temannya yang lain untuk membenarkannya. Dalam hal ini hendaknya diperhatikan juga, bahwa dalam membetulkan suatu kesalahan, janganlah di saat-saat “kalimat” yang dibaca belum selesai. Sebab hal itu akan dapat berakibat makna bacaan menjadi terputus, disamping dapat menghambat konsentrasi siswa.
6. Apabila bahan bacaan itu terlalu panjang, maka sebaiknya bacaan tersebut dibagi-bagi dalam bagian pendek atau kecil, agar sederhana dan mudah dimengerti. Setelah bagian tertentu dapat diselesaikan, maka dilanjutkan pada bagian yang lain, sehingga akhirnya sampai selesai, secara keseluruhan.
7. Dalam memberikan penjelasan, hendaklah disertai dengan contoh-contoh, dan menuliskan arti kata-kata sulitnya di papan tulis untuk dicatat oleh siswa.
8. Sebelum mengakhiri pelajaran, sebaiknya guru tidak lupa menyisipkan kata-kata nasihat kepada siswa agar tergugah dan terangsang untuk giat belajar, rajin mengulangi pelajaran yang dipelajari

3. Kegiatan Akhir
a. Memberikan penegasan dan menyimpulkan materi ajar yang sudah dipelajari
b. Memberikan post tes untuk mengetahui hasil pembelajaran
c. Memberikan tugas mandiri untuk mendalami materi ajar

5. Alat/Bahan/Sumber Belajar
a. Lembar peraga yang berisi peta konsep sesuai materi ajar
b. Lembar peraga yang berisi sketsa penerapan konsep sesuai materi
c. Buku Ajar / buku paket
d. Buku referensi sesuai dengan mata perlajaran yang diajarkan
e. Lembar Kegiatan Siswa.

6. Penilaian
a. Kognitif [Tes Lisan / Tulis]
No ITEM SOAL Bobot Catatan
01 Bacalah bahan qirâ`ah dengan lafal & intonasi yang benar; 3
02 Simpulkan isi kandungan bahan qirâ`ah 4
03 Jelaskan dengan contoh perbedaan antara bentuk kata اسم النكرة والمعرفة yang terdapat dalam kalimat 4
04 Tulislah kalimat-kalimat Arab dalam imlâ` ikhtibârîy 4
05 Susunlah kalimat sederhana dalam kegiatan insyâ` muwajjah yang mengandung bentuk kata اسم النكرة والمعرفة 5

b. Afektif [ Pengamatan Minat dan Sikap]
No Nama Siswa Aspek Penilaian Afektif Jumlah Skor Nilai Catatan
Respon Disiplin Kerja Sama Tuntas Tugas
01
02
03

c. Psikomotorik [Unjuk Kerja]
No Nama Siswa Aspek Penilaian Psikomotorik Jumlah Skor Nilai Catatan Guru
Penguasaan Sistematika Kecakapan Mutu Karya
01
02
03

Mengetahui
Kepala Madrasah

H. AGUS SUGIANTO, S. Ag
Jakarta, Januari 2009

Penyusun
Guru Mata pelajaran

H. NURKHAMID, Lc., M.Pd.

artikel

Tawadhu’ Kunci Kemuliaan Diri

KotaSantri.com : “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku: Tawadhulah (rendah hatilah) hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.” (HR. Muslim dari Ijadl bin Himar RA).

Nafsu manusia senantiasa berseberangan dengan nilai-nilai kemuliaan dan kehormatan diri manusia. Apabila hawa nafsu tidak mengikuti petunjuk ilahi, niscaya kehinaanlah yang akan disandang manusia selama hidupnya. Hal ini, bukanlah masalah yang menimpa orang-orang bodoh tidak berilmu, tetapi bisa pula membelit kaum berilmu (ulama) dan cendekiawan. Tidak khusus menimpa orang-orang miskin dan tidak berpangkat, tetapi bisa pula menimpa para hartawan dan para pejabat.

Di antara nafsu yang menghinakan manusia adalah sikap tinggi hati terhadap sesama orang-orang beriman. Sikap ini janganlah dikira hanya akan menimpa orang-orang yang bodoh dan malas beribadah. Bahkan, bisa jadi ia tumbuh subur dalam dada orang-orang berilmu dan di hati mereka yang ahli ibadah. Orang-orang berilmu yang tinggi hati ditunjukkan dengan merasa diri lebih pintar dan menganggap orang lain bodoh. Sikap ini bisa ditunjukkan dengan cara yang kasat mata, seperti sikap yang angkuh atau kata-kata pedas, namun bisa pula diwujudkan dalam sikap yang halus seperti senantiasa dalam posisi mengguru dan menasehati karena mengganggap orang lain salah dan tidak tahu, sedangkan ia benar dan mengetahui.

Begitu pula halnya dengan para ahli ibadah yang terjebak dengan penyakit tinggi hati, semakin rajin ia beridabah kian merasa lebih tinggi kedudukannya dibandingkan orang lain. Ia merasa lebih baik dan lebih suci daripada saudaranya yang lain. Lalu, secara diam-diam atau terang-terangan, dengan kata-kata lugas ataupun berbalut bahasa agama, ia mulai merasa berhak menilai dan menghukum orang lain dengan pandangannya sendiri.

Perilaku ini, sedikit pun tidak menambah kemuliaan seseorang, malah merendahkan diri. Jika ketinggian hati menimpa orang berilmu, maka terpuruklah akhlaknya dimata Allah dan manusia. Jika ketinggian hati menimpa ahli ibadah, jatuhlah wibawa dan kemuliaannya di sisi Allah dan ditengah pergaulan manusia. Karena itu, berendah hatilah (tawadhu), sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah SAW dalam hadits diatas. Semakin banyak ilmu yang dimiliki harus semakin keras upaya menundukkan diri dihadapan sesama. Semakin rajin ibadah, semakin kuatlah upaya untuk merendahkan hati diantara saudaranya.

Sungguh, godaan dan ujian yang menimpa para ulama dan ahli ibadah, jauh lebih besar dan berat dibandingkan terhadap orang-orang bodoh dan malas ibadah. Kian tinggi kedudukan, kian besar pulalah usaha merendahkan hati. Karena, ketinggian kedudukan sangat mudah untuk menggelincirkan nafsu untuk berbuat sesuka hati. Kedalaman ilmu kian membuka nafsu untuk menenggelamkan kemuliaan diri seseorang. Betapa banyaknya orang-orang berilmu mengumbar hawa nafsunya dengan ilmu yang dimilikinya. Seluruh tindak-tanduknya mendapatkan pembenarannya. Ilmunya mengikuti hawa nafsunya.

Betapa mudahnya kesombongan muncul beriringan dengan sikap tinggi hati. Tidaklah mesti kesombongan itu berwujud kata-kata yang merendahkan dan memuji diri, bahkan ia bisa pula berhias dengan kata-kata yang seolah merendahkan diri dan menghinakan diri namun menunjukkan keangkuhan. Mengumbar kehinaan diri dan kerendahatian di hadapan orang lain, seolah menunjukkan keshalihan dan kerendahatian, pun indikasi ketinggian hati yang sombong.

Hormatilah orang lain sebagaimana syari’ah Islam mengajarkan. Kerendahatian seseorang dalam pergaulan bisa dilihat dari upayanya untuk selalu terikat kepada aturan Allah di dalam pergaulan. Kerendahatian orang-orang berilmu dengan mudah bisa dilihat dari pengamalannya dalam keseharian. Aqidah dan keimanan yang mantap selalu beriringan dengan keterikatannya dengan syari’ah. Keshalihan semu bila orang menunjukkan ahli ibadah namun ia tidak peduli syari’ah dalam kesehariannya. Kemuliaan palsu bila kerendahatian dalam kata-kata tidak selaras dengan syari’ah dalam menempatkan diri, sikap dan perilakunya.

Karena itu tawadhulah dengan tidak menyombongkan diri dan tidak dzalim terhadap saudaranya. Perhatikanlah ini, karena itulah kunci kemuliaan diri. Sombong, sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW, adalah merendahkan orang lain dan menolak kebenaran. Sehingga kesombongan tidak selalu identik dengan pakaian yang bagus dan kendaraan yang baik. Dan kerendahatian tidak selalu ditunjukkan dengan kata-kata halus berbalut ilmu agama.

Sedangkan dzalim adalah kondisi kebalikan dari adil. Dzalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Kedalaman ilmu untuk membenarkan hawa nafsu adalah kedzaliman atas ilmu yang dimilikinya. Betapa banyaknya hokum menjadi bengkok dengan ilmu. Betapa mudahnya ilmu membenarkan hawa nafsu dan merobek-robek hijab dalam pergaulan masyarakat. Ilmu yang tidak tumbuh dalam hati yang bersih dan terjaga akan menjadi kedzaliman bagi dirinya maupun orang lain.

Bila kita mampu menundukkan diri dihadapan orang lain, dengan menghindari sikap sombong dan dzalim, niscaya kemuliaan diri akan datang dengan sendirinya. Sungguh, kemuliaan tidak mungkin diraih dengan ketinggian hati. Kewibawaan tidak bisa tumbuh dengan sikap sombong sebagaimana kehormatan diri tidak mungkin melekat pada orang-orang yang dzalim. Wallahu a’lam bishshawab

artikel remaja

Beberapa Permasalahan Remaja

Keluarga – Bagi sebagian besar orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan terhadap saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun saat itu.

Sementara banyak orangtua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orangtua dan remaja itu sendiri.

Banyak orangtua yang tetap menganggap anak remaja mereka masih perlu dilindungi dengan ketat sebab di mata orangtua para anak remaja mereka masih belum siap menghadapi tantangan dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari jatidiri yang mandiri dari pengaruh orangtua.

Keduanya memiliki kesamaan yang jelas: remaja adalah waktu yang kritis sebelum menghadapi hidup sebagai orang dewasa.

Sebetulnya, apa yang terjadi sehingga remaja merupakan memiliki dunia tersendiri? Mengapa para remaja seringkali merasa tidak dimengerti dan tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya? Mengapa remaja seolah-olah memiliki masalah unik dan tidak mudah dipahami?

Masa Remaja

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun.

Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi.

Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.

Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memhami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut.

Dimensi Biologis

Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.

Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing Hormone (LH).

Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone.

Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif.

Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.

Dimensi Kognitif

Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations).

Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya.

Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri.

Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.

Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi.

Hal ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir anak.

Penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya.

Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.

Dimensi Moral

Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka.

Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb.

Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangkan lebih banyak alternatif lainnya.

Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya.

Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.

Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir mereka dengan “kenyataan” yang baru.

Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap “pemberontakan” remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu.

Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya.

Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut.

Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik.

Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya.

Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam.

Dimensi Psikologis

Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama.

Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.

Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri.

Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran.

Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”.

Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya.

Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.

Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang.

Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab.

Rasa percaya diri dan rasa tanggung-jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati-diri positif pada remaja. Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan.

Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai “seseorang yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya.

Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para “idola”nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja.

Salah satu topik yang paling sering dipertanyakan oleh individu pada masa remaja adalah masalah “Siapakah Saya?” Pertanyaan itu sah dan normal adanya karena pada masa ini kesadaran diri (self-awareness) mereka sudah mulai berkembang dan mengalami banyak sekali perubahan.

Remaja mulai merasakan bahwa “ia bisa berbeda” dengan orangtuanya dan memang ada remaja yang ingin mencoba berbeda. Inipun hal yang normal karena remaja dihadapkan pada banyak pilihan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila remaja selalu berubah dan ingin selalu mencoba – baik dalam peran sosial maupun dalam perbuatan.

Contoh: anak seorang insinyur bisa saja ingin menjadi seorang dokter karena tidak mau melanjutkan atau mengikuti jejak ayahnya. Ia akan mencari idola seorang dokter yang sukses dan berusaha menyerupainya dalam tingkah-laku. Bila ia merasakan peran itu tidak sesuai, remaja akan dengan cepat mengganti peran lain yang dirasakannya “akan lebih sesuai”.

Begitu seterusnya sampai ia menemukan peran yang ia rasakan “sangat pas” dengan dirinya. Proses “mencoba peran” ini merupakan proses pembentukan jati-diri yang sehat dan juga sangat normal.

Tujuannya sangat sederhana; ia ingin menemukan jati-diri atau identitasnya sendiri. Ia tidak mau hanya menurut begitu saja keingingan orangtuanya tanpa pemikiran yang lebih jauh.

Banyak orangtua khawatir jika “percobaan peran” ini menjadi berbahaya. Kekhawatiran itu memang memiliki dasar yang kuat.

Dalam proses “percobaan peran” biasanya orangtua tidak dilibatkan, kebanyakan karena remaja takut jika orangtua mereka tidak menyetujui, tidak menyenangi, atau malah menjadi sangat kuatir. Sebaliknya, orangtua menjadi kehilangan pegangan karena mereka tiba-tiba tidak lagi memiliki kontrol terhadap anak remaja mereka.

Pada saat inilah, kehilangan komunikasi antara remaja dan orangtuanya mulai terlihat. Orangtua dan remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda sehingga salah paham sangat mungkin terjadi.

Salah satu upaya lain para remaja untuk mengetahui diri mereka sendiri adalah melalui tes-tes psikologis, atau yang di kenal sebagai tes minat dan bakat. Test ini menyangkut tes kepribadian, tes intelegensi, dan tes minat.

Psikolog umumnya dilatih untuk menggunakan alat tes itu. Alat tes yang saat ini umum diberikan oleh psikolog di Indonesia adalah WISC, TAT, MMPI, Stanford-Binet, MBTI, dan lain-lain. Alat-alat tes juga beredar luas dan dapat ditemukan di toko buku atau melalui internet; misalnya tes kepribadian.

Walau terlihat sederhana, dampak dari hasil test tersebut akan sangat luas. Alat test psikologi dapat diibaratkan sebuah pisau lipat yang terlihat sekilas tidak berbahaya; namun di tangan orang yang “bukan ahlinya” atau yang kurang bertanggung-jawab, alat ini akan menjadi sangat berbahaya.

Alat tes jika diinterpretasikan secara salah atau tidak secara menyeluruh oleh orang yang tidak berpengalaman atau tidak memiliki dasar ilmu yang cukup untuk mengartikan secara obyektif akan membuat kebingungan dan malah membawa efek negatif.

Akibatnya, para remaja akan merasa lebih bingung dan lebih tidak merasa yakin akan hasil tes tersebut. Oleh karena itu sangatlah dianjurkan untuk mencari psikolog yang memang sudah terbiasa memberikan tes psikologi dan memiliki Surat Rekomendasi Ijin Praktek (SRIP), sehingga dapat menjamin obyektivitas test tersebut.

Satu hal yang perlu diingat adalah hasil test psikologi untuk remaja sebaiknya tidak ditelah mentah-mentah atau dijadikan patokan yang baku mengingta bahwa masa remaja meruipakan masa yang snagat erat dengan perubahan.

Alat tes ini tidak semestinya dijadikan buku primbon atau acuan kaku dalam penentuan langkah untuk masa depan, misalnya dalam mencari sekolah atau mencari karir yang cocok.

Seringkali, seiring dengan perkembangan remaja dan perubahan lingkungan sekitarnya, konklusi yang diterima dari hasil test bisa berubah dan menjadi tidak relevan lagi. Hal ini wajar mengingat bahwa minat seorang remaja sangat labil dan mudah berubah.

Sehubungan dengan explorasi diri melalui internet atau media massa yang lain, remaja hendaknya berhati-hati dalam menginterpretasikan hasil-hasil yang di dapat dari tes-tes psikologi online melalui internet.

Harap diingat bahwa banyak diantara tes tersebut masih sebatas ujicoba dan belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu dibutuhkan kejujuran untuk mampu menerima diri apa adanya sehingga remaja tidak mengembangkan identitas “virtual” yang berbeda dengan diri yang asli.

Selain beberapa dimensi yang telah disebutkan diatas, masih ada dimensi-dimensi yang lain dalam kehidupan remaja yang belum sempat dibahas dalam artikel ini. Salah satu dari dimensi tersebut diantaranya adalah dimensi sosial.

Tips untuk Orangtua

Dalam kebudayaan timur, masih banyak orangtua yang menganggap anak adalah milik orangtua, padahal seperti yang dituliskan oleh Khalil Gibran: Anak Hanya Titipan Sang Pencipta. Ia bukan kepanjangan tangan orangtua. Ia berhak memiliki kehidupannya sendiri, menentukan apa yang terbaik bagi dirinya.

Tentu saja peran orangtua sangat besar sebagai pembimbing. Dalam usia remaja, kemampuan penentuan diri inilah yang semestinya dilatih. Remaja seperti juga semua manusia lainnya – belajar dari kesalahan.

Bagi para orangtua ada baiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Mulailah menganggap anak remaja sebagai teman dan akuilah ia sebagai orang yang akan berangkat dewasa. Seringkali orangtua tetap memperlakukan anak remaja mereka seperti anak kecil, meskipun mereka sudah berusaha menunjukkan bahwa keberadaan mereka sebagai calon orang dewasa.

2. Hargai perbedaan pendapat dan ajaklah berdiskusi secara terbuka. Nasihat yang berbentuk teguran atau yang berkesan menggurui akan tidak seefektif forum diskusi terbuka.

Tidak ada yang lebih dihargai oleh para remaja selain sosok orangtua bijak yang bisa dijadikan teman.

3. Tetaplah tegas pada nilai yang anda anut walaupun anak remaja anda mungkin memiliki pendapat dan nilai yang berbeda. Biarkan nilai anda menjadi jangkar yang kokoh di mana anak remaja anda bisa berpegang kembali setelah mereka lelah membedakan dan mempertanyakan alternatif nilai yang lain. Larangan yang kaku mungkin malah akan menyebabkan sikap pemberontakan dalam diri anak anda.

4. Jangan malu atau takut berbagi masa remaja anda sendiri. Biarkan mereka mendengar dan belajar apa yang mendasari perkembangan diri anda dari pengalaman anda. Pada dasarnya, tidak ada anak remaja yang ingin kehilangan orangtuanya.

5. Mengertilah bahwa masa remaja untuk anak anda adalah masa yang sulit. Perubahan mood sering terjadi dalam durasi waktu yang pendek, jadi anda tidak perlu panik jika anak remaja anda yang biasanya riang tiba-tiba bisa murung dan menangis lalu tak lama kemudian kembali riang tanpa sebab yang jelas.

6. Jangan terkejut jika anak anda bereksperimen dengan banyak hal, misalnya mencat rambutnya menjadi biru atau ungu, memakai pakaian serba sobek, atau tiba-tiba ber bungee-jumping ria. Selama hal-hal itu tidak membahayakan, mereka layak mencoba masuk ke dalam dunia yang berbeda dengan dunia mereka saat ini.

Berikanlah ruang pada mereka untuk mencoba berbagai peran yang cocok bagi masa depan mereka. Ada remaja yang menurut tanpa membantah keinginan orangtua mereka dalam menentukan peran mereka, misalnya jika kakek sudah dokter, ayah dokter, kelak iapun “diharapkan dan disiapkan” untuk menjadi dokter pula. Namun ada juga anak remaja yang memang tidak ingin masuk ke dalam dunia yang sama dengan orangtua mereka.

Dalam hal ini janganlah memaksakan anak mengikuti kehendak orangtua. Seperti Kahlil Gibran ….anak hanya titipan, ia milik masa depan dan kita milik masa lalu.

7. Kenali teman-teman anak remaja anda. Bertemanlah dengan mereka jika itu memungkinkan namun waspadalah jika anak anda sangat tertutup dengan dunia remajanya. Mungkin ia tidak/ kurang mempercayai anda atau ada yang disembunyikannya.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat!

SATRA

Idealis dan Pragmatis

Malam sepi tak ada sahabat menemaniku

Aku sendiri otaku memmikirkan tak jelas kemana melayang

Keresahan hati dan rasa muak membelenggu diriku

Kebangkitan dan cahaya pencerahan selalu didambakan

Pragmatisme dan serba instan selalu selalu menghantui imajinasiku

Idealis menjadi barang mahal untuk dimiliki

Pertarungan idealis dan pragmatis tidak bisa damai

Itu suatu pilihan hidup dalam pemikiran manusia

Idealis selalu menjadi menjadi yang terhormat

Pragmatis dianggap kotor dan busuk

Idealis dan pragmatis wacana pemikiran kontradiktif

Idealis yang dicita-citakan hati nurani

Pragmatis yang meruntuhkan cita-cita

Idealis pragmatis mencoba menyesuaikan diri

Butuh kala lapang dan terhimpit

refleksi

Idealisme dan realitas

Kata idealisme, merupakan kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit untuk direalisasikan. kita harus punya idealisme, memang…, tapi ternyata sangat sulit untuk direalisasikan. ibaratnya idealisme itu di langit, sedang realitas ada di bumi. benar kata ungkapan; gantungkan cita-citamu setinggi langit, tapi jangan lupa, kamu injakkan kakimu di bumi. Hambatan, rintangan dan gangguan yang menghadang idealisme seseorang, cukup banyak dan berat. Ada yang internal dan ada yang bersifat eksternal. Yang internal, mungkin kelemahan potensi yang ia miliki, yang tentu memerlukan motivasi dari luar untuk menggali potensi yang ada. Sedangkan yang eksternal, banyak faktor, di antaranya kebijakan dari atasan yang kurang memihak kepada bawahan. masalah konflik yang terjadi antara atasan dengan atasan, atasan dengan bawahan dan bawahan dengan bawahan. ketika konflik tersebut tidak dapat diselesaikan, mungkin karena ego masing-masing, atau miskomunikasi, atau karena hal yang lain, inilah penyebab musnahnya idealisme seseorang. Akhirnya ia melaksanakan aktifitas mengalir seperti air, yang penting berjalan, tanpa arah, yang pada akhirnya asal mengikuti tanpa ada rasa peduli, atau mungkin mencari cara lain untuk menyelamatkan diri dari idealisme yang dulunya ia miliki. Memang, antara idelisme dengan kenyataan jauh berbeda. kecuali masing-masing pihak menyadari dan intropeksi diri serta mau komunikasi, bukan komunikasi searah tapi dua arah untuk mencari solusi bersama. Semoga orang-orang yang punya idealisme tinggi bisa direalisasikan, walaupun badai dan ombak menghadang. semoga.

refleksi

Trik Menyampaikan Keluhan

Dalam hubungan antara pria dan wanita sering ditemui bahwa hanya karena perkataan yang salah ternyata bisa mengacaukan suatu hubungan tanpa disengaja. Ada pepatah yang mengatakan bahwa lidah itu lebih tajam daripada mata pedang. Ternyata memang benar demikian jika kita tidak hati-hati dalam mengucapkan sesuatu.

Pria dan wanita memiliki gaya berbicara yang berbeda. Pria lebih suka berbicara logis, mengenai politik, bisnis, mobil, olahraga, dan hal lainnya yang mewakili kejantanannya. Berbeda dengan wanita yang biasanya topik pembicaraannya berkisar tentang anak, gosip, masakan, maupun keluh kesah hatinya dan lebih banyak melibatkan perasaan. Kadang-kadang mungkin mereka satu sama lain kurang berminat terhadap topik yang sedang dibahas oleh pasangannya.

Sebagai pria, mereka ingin dilihat sebagai pemecah masalah, sehingga sering bila wanita berkeluh kesah bagi pria kedengarannya wanita tersebut meminta bantuan darinya. Mulailah pria memberikan solusi atas keluh kesah pasangannya. Pada saat itu wanita sedang tidak mencari solusi atas apa yang dikeluhkannya, ia hanya membutuhkan seorang teman untuk mendengarkan tanpa memberikan komentar. Akibat nasihat maupun usul dari pasangan tersebut si wanita jadi bertambah kesal.

Bagaimanakah komunikasi yang benar di antara dua orang makhluk yang berbeda karakter dan sifat tersebut agar keduanya mendapatkan kepuasan ?
Komunikasi merupakan jembatan penghubung kasih diantara pria dan wanita. Wanita harus pandai-pandai dalam berkata sehingga tidak disalah-artikan oleh pria. Seperti kalimat “Kamu tidak mengerti” yang bagi wanita makna sebenarnya adalah “Kamu tidak mengerti bahwa saya saat ini tidak membutuhkan penyelesaian.”
Sedangkan di telinga pria perkataan tersebut seperti hukuman yang menyatakan ia tidak mampu mengatasi persoalan pasangannya. Akan lebih baik bila sebelum menceritakan keluh kesahnya seorang wanita berkata “Saat ini saya hanya ingin membagikan perasaan-perasaan saya. Hal ini akan membuat saya merasa lebih baik.” Dengan kalimat tersebut seorang pria telah siap untuk mendengarkan tanpa ia merasa frustrasi karena tidak dapat membantu menyelesaikan persoalan.

Janganlah lupa mengucapkan terimakasih pada pasangan Anda karena ia telah berkenan meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah Anda. Penghargaan padanya atas hal sulit yang telah dilakukannya (mendengarkan tanpa memberikan komentar ataupun mendengarkan tanggapan negatif dari pasangannya ) akan membuatnya merasa bahagia dan ia akan bersedia melakukannya lagi di lain kesempatan.

Berhati-hatilah dalam pemakaian kata dan nada suara terutama bila berkomunikasi dengan pasangan, karena kalimat yang sama bila diucapkan dengan nada yang berbeda akan memberikan arti yang berbeda pula. Janganlah sampai jembatan komunikasi di antara Anda berdua terputus hanya karena suatu perkataan yang diterjemahkan secara berbeda.

Kelanjutan dari 10 Cara Berkomunikasi Dengan Anak

Berikut ini kelanjutan dari 10 cara berkomunikasi dengan anak  yang ada di tulisan sebelumnya;

6. Menempatkan diri
Usahakan agar selalu melepaskan atribut Anda sebagai orangtua ketika mendengar curhat anak dan cobalah untuk menempatkan diri Anda pada posisi anak. Fikir dan rasakan betapa sulitnya bagi anak Anda untuk mengutarakan permasalahan yang dihadapinya dan berhati-hatilah sebelum memberi reaksi atau komentar.

7. Cintailah buah hati
Katakan kepada anak (dan tanpa pernah Anda merasa bosan), betapa Anda mencintainya dan bisa Anda tunjukkan melalui perlakuan yang penuh kasih. Beri si anak perhatian, seperti ketika dia masih bayi yang tidak bisa melakukan apa-apa. Tunjukkan kepada dia bahwa tiada hal yang lain yang lebih penting selain berada bersamanya.

8. Follow-Up / Tindaklanjuti
Setelah si anak selesai curhat, coba tindaklanjuti sehingga membuat anak jadi yakin bahwa Anda peduli akan masalah / kesulitannya, dan membantunya, sekaligus bisa memberi kesempatan kepada Anda untuk masuk ke dalam dunianya.

9. Minta maaf jika salah
Jangan ragu-ragu atau malu untuk mengungkapkan permintaan maaf jika Anda mengatakan atau melakukan sesuatu yang mungkin tidak sepatutnya dikatakan/dilakukan.

10. Luangkan waktu
Tetap luangkan waktu Anda, meskipun sedikit pun hanya untuk buah hati tercinta Anda. Orang tua yang sibuk bukan berarti orang tua yang buruk, lakukan segala sesuatu dengan spontan seperti mengajak bermain, berolahraga bersama, atau nonton film.

artikel

10 Cara Berkomunikasi Dengan Anak

Sering kali orang tua malas atau susah untuk berkomunikasi dengan anak, karena meskipun setiap hari berjumpa dengan seluruh anggota keluarga tetapi belum tentu terjadi komunikasi perbincangan dari hati ke hati dengan anggota keluarga yang lain. berkomunikasi mudah-mudah susah, mudah jika kita mengetahui trik-nya, susah jika kita tidak proaktif. Di tulisan sebelumnnya (ini dan ini) orang tua disarankan untuk dapat menciptakan komunikasi, mengajak anak untuk mengobrol sesuatu meskipun sebentar atau ringan. Meskipun pembicaraan atau obrolan tersebut sebentar tetapi sangat bermakna bagi kemajuan si anak. Jangan lupa bahwa anak-anak belajar dari apa yang dia lihat di dalam rumah, di sekitarnya, termasuk orang tua dia. Inilah 10 cara berkomunikasi dengan anak, tetapi sebelumnya perlu diketahui obrolan bisa berkaitan dengan apa yang mereka pelajari di sekolah serta apa yang ingin mereka capai. Tingkat keberhasilan anak yang orangtuanya yang selalu mengikuti kemajuan anaknya di sekolah akan lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang orangtuanya jarang mengajaknya berbicara.

Dan berikut ini 10 cara berkomunikasi dengan anak, cara sederhana untuk memulai obrolan atau pembicaraan bahkan menceritakan pengalamannya.

1. Jadilah pendengar yang baik
Jika ingin anak mau menceritakan sesuatu hal, segera hentikan kegiatan yang sedang Anda lakukan ketika itu. Jika tidak, si anak akan merasa tidak dipedulikan dan mengangggap Anda tidak punya waktu untuknya. Hindari juga untuk memotong pembicaraan si anak, jika dia marah, ketakutan, gembira dan sebagainya biarkan dia untuk mengungkapkannya. Sebaliknya ketika si anak mendengarkan perkataan Anda, Anda boleh saja untuk curhat tetapi yang sesuai dengan usia mereka. Dengan menjadi pendengar yang baik dan mendapat perhatian dari Anda, hal itu merupakan pemberian yang terbaik bagi anak.

2. Tenang dan jujur
Hindari untuk mengucapkan kata-kata yang tidak pantas atau yang bisa menyakitkan bagi dia sebagai ungkapan rasa marah atau frustrasi. Anak akan belajar menjadi pendengar yang baik dan percaya pada apa yang Anda katakan bila Anda berbicara dengan jujur, benar, dan tenang. Rasa percaya dan menghormati itu datangnya dari kejujuran dan ketulusan Anda sendiri. Jika Anda tidak bersungguh-sungguh sebaiknya jangan katakan hal yang tidak perlu Anda katakan itu.

3. Pembicaraan dua arah
Jika berbicara dengan anak, berilah mereka pilihan. Biarkan mereka merasa sedang mengobrol dengan Anda, bukan sedang diatur oleh Anda. Ciptakan komunikasi dua arah dengan suasana yang menyenangkan, bukan dengan komunikasi satu arah, dan apalagi dengan sikap mendikte.

4. Hindari pertanyaan yang bertubi-tubi
Usahakan agar Anda tidak menguasai pembicaraan. Jika si anak curhat dan merasa Anda terlalu cerewet atau bahkan kecewa dengan ceritanya, kemungkinan di lain waktu ketika dia mempunyai masalah, si anak kemungkinan tidak akan membagi cerita kepada Anda.

5. Berilah dukungan
Ketika si anak sudah mulai mempercayakan ceritanya kepada Anda, mereka harus merasa lega, merasakan dukungan Anda, terinspirasi, dan bersemangat. Jangan membuat mereka merasa bersalah atau apalagi kecewa. Jika anak datang kepada Anda dan menceritakan masalahnya, coba untuk dengarkan dengan penuh perhatian serta beri dukungan seperti “Bunda yakin kamu bisa atasinya”, “Bunda ada di sini koq dan siap membantumu”, dan sebagainya.

6. Baca kelanjutannya di tulisan selanjutnya……

KUMPULAN KATA-KATA BIJAK

Kumpulan kata-kata bijak, karya Harun Yahya yang telah diterbitkan di berbagai media cetak di Turki dan di banyak negara di dunia.

Jauhilah dengki, karena dengki memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.
Nabi Muhammad SAW

Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia.
Nabi Muhammad SAW

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.
Khalifah ‘Umar

Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan.
Ibnu Mas’ud

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.
Khalifah ‘Ali

Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.
Imam An Nawawi

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.
Khalifah ‘Umar

Pengetahuan tidaklah cukup; kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup; kita harus melakukannya.
Johann Wolfgang von Goethe

Pencegahan lebih baik daripada pengobatan.
Johann Wolfgang von Goethe

Kearifan ditemukan hanya dalam kebenaran.
Johann Wolfgang von Goethe

Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang.
Einstein

Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian.
Einstein

Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya; hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang.
Einstein

Dua hal yang membangkitkan ketakjuban saya – langit bertaburkan bintang di atas dan alam semesta yang penuh hikmah di dalamnya.
Einstein

Apa yang saya saksikan di Alam adalah sebuah tatanan agung yang tidak dapat kita pahami dengan sangat tidak menyeluruh, dan hal itu sudah semestinya menjadikan seseorang yang senantiasa berpikir dilingkupi perasaan “rendah hati.”
Einstein

Sungguh sedikit mereka yang melihat dengan mata mereka sendiri dan merasakan dengan hati mereka sendiri.
Einstein

Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna.
Einstein

Tidak semua yang dapat menghitung dapat dihitung, dan tidak semua yang dapat dihitung dapat menghitung.
Einstein

Uang Lebih Penting


Seorang anggota ABRI berpangkat kopral berpakaian preman tengah berjalan sendirian di jalan yang gelap dan sepi oleh dua pria berpistol.

“Saya tidak main-main,” kata salah satu pria sambil mengancam.

“Serahkan uangmu, atau otakmu kubuat berhamburan.”

“Silakan tembak dan buat otak saya berhamburan,” sambut si kopral. “Sebagai anggota ABRI saya tak memerlukan otak; saya lebih butuh uang untuk hidup.”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.